Monday, October 08, 2007

Hierophant


You are The Hierophant


Divine Wisdom. Manifestation. Explanation. Teaching.


All things relating to education, patience, help from superiors.The Hierophant is often considered to be a Guardian Angel.


The Hierophant's purpose is to bring the spiritual down to Earth. Where the High Priestess between her two pillars deals with realms beyond this Earth, the Hierophant (or High Priest) deals with worldly problems. He is well suited to do this because he strives to create harmony and peace in the midst of a crisis. The Hierophant's only problem is that he can be stubborn and hidebound. At his best, he is wise and soothing, at his worst, he is an unbending traditionalist.


What Tarot Card are You?
Take the Test to Find Out.

Saturday, October 06, 2007

Episode Kalibata


Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

Chairil Anwar-Prajurit Jaga Malam

Pemandangan yang sama ditemui sejauh mata memandang. Kesepian yang syahdu, seperti menunggu seseorang yang akan datang sewaktu-waktu. Ya, kubur-kubur itu berjajar rapi, sepintas terlihat seragam dalam segalanya. Bila dilihat lebih dekat, ada beberapa yang tampak begitu terawat walaupun ahli kubur di dalamnya telah berpulang lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Ada juga yang ditumbuhi tanaman-tanaman ilalang, sedikit terbengkalai. Ada yang terlihat tak tersentuh sama sekali. Beberapa permukaannya masih terliputi bunga-bunga segar yang ditaburkan peziarah.

Peziarah-peziarah yang datang menanyakan lokasi kuburan tertentu pada pengurus-pengurus pemakaman itu. Dengan fasih para penjaga taman makam itu menunjukkan makam-makam tertentu milik sanak saudara mereka yang telah berpulang. Wajah-wajah sendu yang hadir saat berdoa itu cepat terhapus ketika telah saatnya meninggalkan tempat. Memang, tidak ada seorang pun yang menyukai tempat ini. Hanya waktulah yang nanti akan menyeret satu demi satu para peziarah nanti jika telah tiba waktunya.

Mengharukan sekaligus mengenaskan memang, ketika manusia lahir, kelahirannya disambut dengan sukacita dan mungkin perayaan dalam lingkungan keluarganya. Kemudian mengalami masa kana-kanak yang tak mengenal rasa susah, masa remaja yang mengombang-ambing seperti kapal yang tak bisa berlabuh tapi juga tak sanggup berlayar. Kedewasaan yang semakin menuntut dengan tanggung jawab yang tak terelakkan. Masa senja yang menggerogoti tulang belulang dan daging serta darah, tetapi tetap indah bagi mereka yang penuh hikmah. Ketika telah berkalang tanah, kadang mereka tersia-siakan, karena nama yang ditinggalkan mulai lekang oleh waktu.

Mungkin perjalanan seperti ini harus dilakukan setidaknya beberapa bulan sekali. Betapa ia mengajarkan manusia akan tempat kembalinya nanti, setidaknya mengundang bulu kuduk untuk berdiri. Kesunyian itu begitu wajar, tapi kadang menyesakkan. Mengingatkan pada yang hidup akan rapuhnya kehidupan itu, seperti sehelai kapas yang siap diterbangkan angin kemana saja, untuk selanjutnya menghilang dan tergantikan.

Mereka, pahlawan-pahlawan Kalibata, hanya sebagian kecil dalam suatu episode sejarah manusia yang kental dengan warna-warna berbeda. Banyak yang bahkan harus dikuburkan tanpa identitas lain kecuali makhluk penciptanya karena gugur dalam suatu peristiwa yang sulit dipertanggungjawabkan kejadiannya. Mereka, bagian dari manusia yang telah melewati paginya, menjemput senjanya dan merengkuh tenggelamnya matahari sebelum menutup mata.

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar-Derai-derai Cemara

Hidup tidak selalu berarti kekalahan ataupun kemenangan. Ia adalah sebuah perlombaan sakral, yang keikutsertaan dan akhirnya telah ditandatangani sebelum setiap pesertanya hadir dan mulai berlomba. Kelahiran dan kematian, hanyalah kedipan dunia, suatu bagian dari proses alami semesta yang kehilangan kemudaannya sering dengan menuanya zaman.

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar-Aku

Mari bersama-sama menanamkan jejak kebaikan dalam episode kehidupan kita masing-masing. Ya, sedikit saja tanda pada almanak, bahwa kita pernah ada, sebelum rebah diri di gurat nirwana.* Insya Allah :).


*Diambil dari puisi Milad


Dedicated to almarhum Yahya Abbas.

Tuesday, October 02, 2007

Hands Down :P

Handwriting Analysis

What does your handwriting say about YOU?

The results of your analysis say:

You plan ahead, and are interested in beauty, design, outward appearance, and symmetry.
You are a shy, idealistic person who does not find it easy to have relationships, especially intimate ones.
You are diplomatic, objective, and live in the present.
You are a talkative person, maybe even a busybody!
You are self-confident and like to bring attention to yourself.

Woodwork

Dear,

Finished reading Agnes Grey yesterday. Quite touching indeed, and I must say despite the less profound character development, I prefer Agnes Grey to Jane Eyre. It is much simpler, and there are less characters in Agnes Grey, so I find it easier to relate to them.

Oh, and by the way, I have a new addiction! Just found about this thing yesterday, not actually something new since I've been hoping to have this thing when I read Laura Ingalls Wilder's books.

Checked the price in ebay. Blah, most of them are so pricey. I really have to resort to doing a little bit of trickery (aka look for it in Jalan Surabaya or other antique shop in Jakarta) rather than ordering online. It can be a bit hard on the wallet by the way. :(

You can see the picture of Victorian Lapdesk here:



And another one:




It's so wonderful to live in such a literary-minded world of Victorian! Lots of letter-writing, book-reading, and probably drama-performing. But maybe during that time any form of arts is only for the rich. *sigh*

Thursday, September 27, 2007

Mencari, mencari...

Kadang-kadang nggak tahu apa yang harus dipercayai.

Susah juga lihat mana yang salah dan mana yang benar. Emosi itu seringkali berujung ke hal yang negatif ya. Manusia selalu bisa bicara, tapi yang paling susah itu implementasinya. I'm trying to practice what I preach. Tapi jatuh lagi, terus menerus jatuh.

Adalah useless untuk memikirkan orang-orang yang hanya mencintai diri sendiri. Kadang diri ini perlu lebih dicintai. Dan saat itu saya sudah tidak bisa peduli lagi pada orang lain. I'm not a pushover. I'm not going to be taken for granted by anyone.

Kunci kehidupan, saling berbagi, menjaga lisan. Sulitnya, alangkah sulitnya. Saya ingin sekali berkata bahwa ketika kita berkata bahwa kita peduli pada seseorang, seringkali kita hanyalah berusaha peduli pada diri sendiri, mencoba menolong diri sendiri. Membuat diri sendiri terlihat baik tanpa mempertimbangkan konsekuensi.

Ketika kita mencoba melihat ke bawah dan baru sanggup bersyukur, pernahkah kita bertanya kenapa kita harus melihat dulu baru bersyukur? Tak bisakah manusia beryukur dari hatinya, berterima kasih akan apa yang sudah dia terima, tanpa membuat perbandingan dengan orang lain dulu?


Perubahan, menyelami diri sendiri, menjaga hati dari kekotoran-kekotoran zaman. Ternyata kita tidak selamanya bisa menjadi idealis. Kadang-kadang, memang perlu untuk bersikap egois.

And I'm in.

Wednesday, September 26, 2007

Terjal

Tidak bisa ditempuh jalan ini
Setiap detiknya kelabu berderak
Bergerak, bergerak
Terbenamkah matahari di benak?

Dan setiap janji hari
Pada sebuah kehidupan, sebutir embun di dedaunan
Berputar pada porosnya, hingga bintang bertabrakan
Berdebat, kapan kita pergi menjemput nasib
Hanya bisa maju, maju, menanti gugurnya kalbu

Siapa yang menjanjikan bintang pada manusia?
Ketika lemah, lemah, lemah saja yang terasa
Seperti apa, suara-suara, gaung-gaung, retak-retakan di dinding
Berbicara, memukul-mukul kesempatan terbuang
Biarkan, biarkan

Bayanganku tak pernah bisa diam
Ia menyerang, menendang, menjulang
Pilihan, pilihan, pilihan
Waktu, dimana belas kasihan?

Poetry in the Making


Anak Laut

Asrul Sani


Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan.

Pasir dan air seakan
bercampur awan
tiada menutup
mata dan hatinya rindu
melihat laut terbentang biru

"Sekali aku pergi
dengan perahu
ke negeri jauhan
dan menyanyi
kekasih hati
lagu merindukan
daku."

Tenggelam matahari
Ufuk sana tiada nyata
bayang-bayang bergerak perlahan
aku kembali kepadanya."

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan.


Keterangan: Asrul Sani, Rivai Apin dan Chairul Anwar ini terkenal sebagai Tiga Sekawan penyair. Karya bersama mereka berjudul Tiga Menguak Takdir. Oiya, Asrul Sani ini juga penulis naskah Nagabonar yang asli. He's really, really gifted.

Monday, September 24, 2007

Greetings :)

My hands ache for not being able to write, scratch that, to type anything for more than two weeks.
Will be happy to get more holiday before impending 'future', but definitely I'll need to pack my laptop next time.

Malang was wonderful as usual. You don't even need an air-conditioner, the weather was perfect. And I was so well-fed it's practically unbelievable that I managed a few pounds there. :P

Anyway, it is so difficult to write anything when you have practically tons of things in your head. Not that any of them is important. It's just that I keep forgetting what I actually want to write. And those chicklit books are no help. They are just addictive. Literature or no literature, those Woolf's books cost me an arm and a leg. I'll take Meg Cabot over The Voyage Out any day :P.

Best,

Adilla

Sunday, September 23, 2007

He AIn't Heavy

He Ain't Heavy*


Assalamualaikum wr.wb


Mereka berbagi ruang yang sama sebelum melihat dunia. Hanya saja sang kakak hadir lima tahun lebih awal darinya. Tak terkirakan kebahagiaan anak lima tahun itu begitu mengetahui jabang bayi prematur delapan bulan dengan berat hanya dua kilogram selamat dan ia pun mendapat gelar baru: kakak.


Tahun-tahun berlalu. Si adik yang dahulu hanya sebuah boneka yang sering menangis di malam hari kini mulai terasa hidup dan mengisi kehidupan si kakak. Bukan main bahagianya ia ketika melihat makhluk 11 bulan itu belajar berjalan. Betapa girang hatinya ketika kata-kata yang mulai beraturan keluar dari mulut makhluk mungil itu, atau langkah-langkah kakinya yang menyemarakkan rumah mereka.


Kemudian sekian tahun berikutnya datang dan pergi. Si bayi mungil itu telah mengajarkan lebih banyak pelajaran hidup dari apa yang didapat sang kakak di sekolah. Ia mengajarkan keteguhan, kemauan untuk bangkit kembali setelah jatuh, betapapun sakitnya. Ia mengajarkan cara mencintai sesama tanpa mengharapkan imbalan. Ia mengajarkan cara mengeja kata-kata yang terukir di pasir pantai, menafsirkan arti kehidupan dengan cara yang tidak menggurui. Ia mengajarkan ketulusan dan kelembutan, bagaimana cara merangkul kesulitan dan mengajaknya berjalan bersama di saat sang kakak nyaris menyerah. Ia mengisi hari-hari sang kakak dengan humor, dengan kejutan-kejutan kecil, dan hari-hari penuh keindahan yang takkan pernah bisa ditukar dengan apapun. Setiap saat, setiap waktu.


Namanya Anggoro. Saat ini orang mungkin akan mengenalnya sebagai putra dari Bapak A dan Ibu B, atau sebagai adik dari seseorang di tempat dimana ia berada (kebetulan mereka bersekolah di tempat yang sama dari SD hingga SMA). Tapi suatu saat ia akan menjadi manusia bebas, dengan identitas diri yang tak tersamarkan, identitas sebagai makhluk ciptaan Allah SWT dan khalifah di muka bumi, satu-satunya identitas yang akan terus ia bawa seumur hidupnya.


Perkenalkan, saya kakak dari Anggoro. Dan saya sangat ingin bisa membuat dia bangga memperkenalkan diri sebagai adik saya. Insya Allah :).


*Hadiah ulang tahun yang sangat terlambat untuknya :). PS: Teteh sayang Ade :D.


Untuk sulung-sulung (dan kakak-kakak) di luar sana dengan rahmat generasi penerus di belakang mereka.


Tuesday, August 21, 2007

Kuku. Gunung dan Cinta Seorang Perempuan


Kuku, Gunung, dan Cinta Seorang Perempuan (Perempuan Kedua)*

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Cinta laki-laki seperti gunung, ia besar, tapi konstan dan sayangnya rentan. Jika mengamuk ia akan meletus dan menghanguskan apa yang ada di sekitarnya. Cinta perempuan seperti kuku. Kecil, tetapi terus menerus tumbuh walaupun dipotong. Jika suatu saat kuku itu patah dan harus dicabut, seberapapun sakitnya, kuku itu akan terus tumbuh. –Biola Tak Berdawai, Seno Gumira Ajidarma-

When a woman marries again, it is because she detested her first husband. If a man marries again, it is becase he adored his first wife. Women try their luck; men risk theirs-The Picture of Dorian Gray, Oscar Wilde-

Entah solidaritas apa yang membawa sekumpulan tiang-tiang negara itu untuk berada di pengadilan, meneriakkan dukungan semangat dan dorongan kepada salah satu dari kaumnya untuk berani menghadapi kemungkinan apa yang ada di hadapannya. Kemungkinan yang mungkin akan membuat cinta wanita itu, seperti kuku yang telah patah dan harus dicabut. Sakit, tetapi kembali tumbuh perlahan, demi cinta yang tak pernah habis untuk anak-anaknya. Untuk orang yang mencintai dan memerlukan kehadirannya.

Seorang laki-laki menikah lagi. Ia mungkin bukan lelaki ‘biasa’, kehadirannya begitu meneduhkan, membuat ia dicintai dan diidolakan oleh kaum adam maupun hawa. Entah mengapa cinta kaum hawa pada lelaki itu seakan berbalik, ketika cinta sang lelaki pada istri yang telah menghadiahkan tujuh generasi penerus itu harus terbagi. Entahlah. Mungkin sebenarnya lelaki itu adalah pemenangnya, karena ia telah membuktikan bahwa ia manusia biasa, yang tak berhak mendapat pengkultusindividuan dari siapapun. Entahlah.

Seorang ibu yang sangat tegar dan luar biasa itu bercerita. Lelaki yang telah dinikahinya belasan tahun lalu mengaku bahwa ia telah jatuh cinta. Lagi. Pada seseorang lain yang baru saja beberapa saat hadir dalam kehidupannya. Dan sang ibu yang luar biasa ini mencoba mendekati manusia baru dalam kehidupan sang suami. Mendapati bahwa mereka berbagi banyak hal, selain cinta pada makhluk Allah yang sama. Dan mendoakan kebahagiaan wanita itu saat mereka berpisah. Sungguh-sungguh mendoakannya hingga akhirnya wanita itu menemukan jodohnya sendiri.

Dalam sebuah diskusi tentang perkawinan yang mulai memanas, pembicara akhirnya memilih menengahi dan berkata: “Ibu tahu tidak ada seorang pun yang ingin diduakan, karena itu, berhentilah menjadi perempuan kedua (ketiga, keempat dan seterusnya)...”

Para laki-laki dengan cinta sebesar gunung itu. Dengan kesungguhan dan kerja keras yang akan melumerkan batu dan merontokkan dedaunan. Dengan kasih sayang yang mengalahkan segarnya oasis di gurun-gurun. Dengan tulang-tulang rusuk bengkok yang harus ‘diluruskan’, seberapa banyakpun jumlah rusuk-rusuk itu.

Mungkin suatu saat gunung itu akan meletus. Mungkin kerusakan yang ditimbulkannya tidaklah sebanding dengan kebaikan yang akan dibawanya kelak, dengan bunga-bunga tanah yang menjanjikan surga baru bagi lahan yang sempat teraniaya. Mungkin. Entahlah, entahlah.

Untuk ayah-ayah dan lelaki-lelaki dengan cinta sebesar gunung di luar sana. Semoga gunung itu tak pernah meletus.

*Terinspirasi dari tulisan Fatma Ariana dalam Catatan Seorang Ukhti 6: “Kuku, Gigi, dan Cinta Seorang Perempuan”

*Terima kasih A-team untuk diskusinya.


Wednesday, August 15, 2007

Topeng




with a lock in my heart,

I put on a mask in a cold consciousness

aside from you, who knows my true face?

(Masquerade-Hitomi)

Ada sebuah cerita yang menarik dalam salah satu novel yang pernah saya baca. Dalam buku itu ada dua orang perempuan yang bersahabat, dan salah satunya menanyakan kenapa temannya yang lain sering terlihat memasang 'wajah' yang berbeda setiap menghadapi orang yang berbeda-beda pula.

Sang teman ini menjawab, bahwa setiap orang berhak untuk diperlakukan secara berbeda-beda, sesuai dengan kepribadian mereka. Si penanya bertambah penasaran, karena ia secara pribadi berpendapat bahwa hal seperti itu merepotkan. Gue ya gue, mau orang lain terima atau nggak itu masalah mereka, begitu kira-kira ia berpendapat.

Sang teman kembali menjawab, bahwa dengan memperlakukan setiap orang sebagaimana mereka ingin diperlakukan, kita akan terlatih menjadi subyek, dan bukan hanya sekedar obyek. Lalu apa yang salah dengan menjadi obyek? Kembali terlontar jawaban yang bijak: bahwa hanya orang yang bersedia menjadi subyeklah yang bisa menjadi pahlawan dalam arti yang sesungguhnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa seumur hidupnya manusia memakai topeng. Bedanya hanyalah, ada topeng elastis yang dengan lenturnya berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi, topeng yang lahir dari hati yang tulus dan pikiran yang jernih, dan topeng kaca yang mudah pecah, yang harus diganti setiap kali ia menjadi properti sebuah peran.

Ada sebuah fragmen yang indah tentang 'topeng' ini dari kehidupan Rasulullah SAW sendiri. Diceritakan bahwa Rasulullah SAW memperlakukan sahabat-sahabatnya, para khalifah sesuai dengan kepribadian masing-masing.

Dengan Abu Bakar As-Shiddiq, beliau tak segan-segan bermanja dan memperlakukan beliau seperti kakaknya. Terhadap Umar bin Khattab yang tegas, Rasulullah juga bersikap tak kalah tegasnya. Ketika menghadapi Utsman bin Affan yang pemalu, Rasulullah selalu berpakaian rapi.

Mungkin sudah saatnya kita melatih diri kita, memasang 'topeng elastis' yang senantiasa digerakkan oleh hati, sehingga topeng-topeng kaca yang dulu sempat terpasang tak diperlukan lagi. Insya Allah :).

Saturday, August 11, 2007

Father and Son (errrmm, daughter) :P


Thanks, Dad :).

Father and Son (Ronan Keating ft Yusuf Islam)


Father
It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

Son
How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

Father
It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

Son
All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them you know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

The A-team

....or 3 of them :).

Cheers, Sistas! :D

Best,

Adilla

Photo courtesy of Ayu

Thursday, August 09, 2007

Broken Rhapsody

Suddenly I miss them, for no reason. But I guess you don't need a reason to miss your own 'family' :).

Take care.

Best,
Adilla

Dua Puluh Menit

Dua Puluh Menit

Most of man's troubles come from his inability to sit down and be quiet for twenty minutes -Aristoteles

Perkenalan dulu ya? Menurut saya ini bagian yang cukup susah, karena menurut sebuah buku yang saya baca, introducing oneself may seem egoistic, and since everybody is egoistic, no one likes to appear so :P. Saya Adilla Anggraeni, biasa dipanggil Adilla. Business angkatan 2004. Semoga hal-hal sederhana yang saya bagi disini bisa sedikit bermanfaat untuk kita semua, sesama pembelajar di sekolah alam semesta :).

Bicara tentang dua puluh menit, saya cukup lama berpikir dan merenungkan apa arti ungkapan di atas. Apa iya sebagian besar masalah kita timbul karena ketidakmampuan kita sendiri untuk duduk dan berdiam diri selama dua puluh menit? Seberapa besar ya arti dua puluh menit itu sendiri?

Dua puluh menit mungkin adalah lamanya waktu yang digunakan untuk tersenyum dan menyapa orang-orang yang kita temui pada satu hari.

Dua puluh menit mungkin terasa sangat singkat bagi sebuah bibir dan jemari yang rajin berdzikir selepas sholat.

Dua puluh menit sangatlah lama bagi hati yang jernih untuk tidak mengingat Penciptanya.

Dua puluh menit uluran tangan yang sederhana mungkin akan sangat berarti bagi seorang wanita tua yang kerepotan membawa barang belanjaannya.

Dua puluh menit bisa menentramkan hati seorang sahabat yang sedang berduka di ujung sana.

Dua puluh menit mungkin juga waktu yang digunakan seorang ibu ketika ia bangun dan terjaga di malam hari untuk menidurkan kembali bayinya.

Dua puluh menit perhatian yang diberikan kepada seorang pasien yang sendirian tanpa sanak keluarga yang menemani mungkin akan dia kenang setidaknya hingga dua puluh tahun ke depan.

Dua puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk menyulut permusuhan, tetapi sangat singkat dan mungkin tidak dapat mencukupi untuk menciptakan perdamaian.

Dua puluh menit ternyata bisa mengubah segalanya, meninggalkan bekas dan harapan untuk maju ke depan, menjalani menit-menit yang tersisa dalam kehidupan.

Dua puluh menit dalam hidup kita setiap harinya, sudahkah kita manfaatkan untuk hal-hal yang dapat membekas hingga setidaknya dua puluh tahun ke depan? Semoga :).

Tuesday, August 07, 2007

Bon Voyage, Lady Boucle ;)




Dear Manda,

thanks for being there for me. You really are the best sister anyone could wish to have. Wish you all the best for your future endeavours and take care :).

Love,

Adilla

An Old School Affair



It's always nice to have them by your side, giving you comfort and loving you unconditionally.

Thank you, friends :).

PS: It was really "An Old School Affair", took place in Fullerton Hotel. I couldn't agree more that all of them look incredibly smart and beautiful :D.

Thursday, August 02, 2007

Convocation

My lovely, unconventional parents. Always there, always ready to help and love. Sincerest gratitude to both of you. No words can describe how much I love you :). Thanks for everything.



My, I look chubbier than ever! XP



Thanks for coming, Teh. Glad you could make it :).

Ayu, partner in and against crimes :D. I suppose convo gown can look good, too.



Nancy, Ocvia, and Wewoen. Three girls who have made it through the rain. So lucky to have all of you as my friends :).









Fellow SSS-ers. Glad to have them as seniors and friends :D.

Friday, July 13, 2007

Rapture





Just sharing some pics ;). Pictures courtesy of Fanny.

Wednesday, July 11, 2007

Step by Step

I'm moving now, both move out and on :). It's kinda troublesome especially when you have quite literally tons of things (you know, being a girl and all that---> but come to think of it, most of my belongings consist of books, which is not exactly 'girly' :P).

Moving on is needed every time you make your way to the top. Sometimes memories, good or bad, can hinder your movement and make you unable to make important decision in your life.

So this is good bye :).

Best,
Adilla

Thursday, June 07, 2007

Adilla Anggraeni, B.Bus

Assalamualaikum....

Alhamdulillah, that long and winding journey ends here. So this is just an acknowledgment for some parties that have been so helpful during these three years.

  • Allah SWT, basically for EVERYTHING. I'm grateful for whatever You've decided for me. Surely You've got some bigger plans :). Alhamdulillah.
  • Bapak dan Ibu. Terima kasih untuk semuanya. Doa, cinta, dukungan moral dan material. Terima kasih karena menerima saya apa adanya, percaya dan yakin bahwa saya selalu berusaha memberikan yang terbaik, apapun hasilnya.
  • M. Anggoro Wicaksono, my little brother. Terima kasih karena sudah ada disana dengan segala kelucuan dan teladan yang tidak pernah disadari. Teteh selalu sayang banget sama Ade.
  • Keluarga Wiranatadjaya, atas cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tidak kalah dari keluarga sendiri. I love you, all.
  • Keluarga Yahya
  • keluarga Sahadi.
  • FYP mates, Ayu Pratiwi dan Abdullah Rubaet Chowdhury, thanks for your dedication and hard work. I kinda miss doing FYP right now :P.
  • NBS people: Ayu Pratiwi, Karina Widagdo, Melisa Hendrawati, Nancy, Ocvia Freriana, Fieda Khorman, Wewoen Wilyani Salim, Ronal Halim (dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu), tidak ada satu haripun tanpa kebanggaan karena menjadi bagian dari kalian semua, thanks for your friendship, support, smiles, and helps. I couldn't have been able to survive those days had you not given me any :).
  • Accellers-04, Vanya, Mia-chan, Fitri-chan, Fanny-chan, Gege-chan, Rio-kun, Ryan-san dan Shana-san. Terima kasih atas inspirasi dan teladan selama ini. I wish you all the best for all your endeavours.
  • NBS faculty, thanks for providing everything that I needed and many things to satisfy my curiosity and inquiring mind.
  • NTU-2004, terima kasih karena sudah menjadi bagian dari kehidupan saya selama tiga tahun. I'm grateful for every single moment here.
  • SSS, terima kasih karena sudah mengijinkan saya menjadi bagian dari kalian. Terima kasih untuk persahabatan dan pertolongan yang diberikan, serta kesempatan untuk saling berbagi. :)
  • MIN 62, kakak-kakak, teman-teman dan adik-adik. Terima kasih atas bimbingan, cinta, pengetahuan dan ukhuwah yang sudah terjalin selama ini :).
  • Last but not least, semua pihak yang telah meletakkan dasar-dasar pendidikan dan karakter dalam diri saya. Terima kasih atas segala dukungan dan kepercayaan di saat saya benar-benar membutuhkannya untuk tetap maju. Kenangan tentang kalian tersimpan rapi dalam sudut otak yang Insya Allah tidak menguap seiring berlalunya waktu.
  • Pihak lainnya yang belum disebutkan, I'd like to thank everyone of you. :)
Best,

Adilla

Wednesday, June 06, 2007

TIRAMISU



TIRAMISU

Semuanya selalu sama. Rasa yang begitu lezat, dan adonan yang lumer dan lembut di lidah. Semuanya terbungkus lembut. Dan Raina terbuai.

Selalu sama. Kafe yang sama. Tempat duduk di sudut yang sama. Percakapan yang berbeda. Tapi tumpukan kertas di hadapannya seolah tak perduli. Mereka mencampur semuanya, meramu semuanya. Mencampur segala kata sifat yang ada di dunia ini dan mencampurkannya seperti garam di lautan.

Tua, muda. Kenapa kedua kata sifat itu seolah bukan hanya bertentangan, tetapi juga mencerminkan dua sisi yang berlainan? Mengapa semua orang mengucapkan kata “tua” dengan rasa jijik, takut, dan antisipasi yang berlebihan? Mengapa wajah mereka memucat, seolah tengah melihat sendiri lubang kuburan mereka digali? Tak bisakah kata “tua” dan “muda” diucapkan seolah mengucapkan kata merah dan hijau? Tanpa ada tendensi dan makna terselubung di baliknya?

Dan Raina kembali tersenyum. Menggoyangkan pena di balik kedua jemarinya, mencoba menerka apalagi yang akan ia tulis di helaian kertas di hadapannya. Hidup. Tentu, tidak ada yang lebih bernyawa dan menginspirasi dari hidup itu sendiri. Bahkan lebih dari cinta yang diagung-agungkan banyak orang sebagai sumber inspirasi terbesar. Bukankah cinta itu sendiri adalah hadiah dari kehidupan?

Kening Raina berkerut. Pandangannya kembali terlempar pada sosok-sosok di sekitarnya, yang menghirup kopi atau cairan apapun yang ada di gelas mereka dengan kepuasan tersendiri. Seorang lelaki duduk tepat di hadapannya, pakaiannya sedikit lusuh, tapi raut wajahnya bersinar ketika ia membolak-balik koran di hadapannya. Kebahagiaan itu! Manusia macam apa sekarang, yang bisa begitu bahagia hanya dengan menikmati secangkir kopi, di udara yang membekuka tulang seperti ini?

Manusia yang tahu cara mensyukuri hidup. Raina memutuskan. Dan kembali tertunduk mencoretkan sesuatu di atas kertas. Bibirnya membentuk seutas senyuman. Jikalau aku bisa merekam adegan di hadapanku ini seperti seorang pelukis di hadapan kanvasnya! Raina iri, sangatlah iri karena ia perlu menggoreskan seribu kata sebelum akhirnya mampu menandingi kelancaran bahasa seorang pelukis di hadapan kanvasnya.

Raina begitu iri, sehingga pikirannya kacau saat itu. Dosis kafein yang ia tenggak sebelumnya tak pernah mampu meredakan kekalutan Raina seperti saat ini. Raina meremas kertas di hadapannya keras-keras. Selalu sama, selalu sama. Kejadian ini berulang lagi, hingga ia ingin berteriak begitu keras dan melupakan segalanya. Kecuali rasa tiramisu yang masih menari-nari di lidahnya.

Kenapa adonan di depannya ini bahkan bisa berbicara lebih banyak daripada kertas-kertas naskah ini? Bisa bercerita lebih banyak dari kerutan yang menghiasi wajah seseorang? Bukankah kerutan itu menandakan setiap peristiwa besar dalam kehidupan? Garis kegembiraan yang terbentuk setelah bertahun-tahun menjadi satu kerutan. Lalu ada garis tangis. Garis terkejut. Garis lengkung tanpa arti yang terbentuk karena keheranan. Itu saja. Tapi ia telah kalah berbicara.

Setiap ada di café ini, Raina selalu membandingkan dua hal. Kopi yang pahit dan tiramisu yang manis menggigit. Taplak meja yang bersih dan serbet yang telah kotor. Kakinya yang bersepatu hak tinggi dan pengemis telanjang kaki di luar. Lembaran uang di meja yang pastinya cukup untuk hidup pengemis itu di luar dan recehan di kaleng di hadapan pengemis itu. Tempat orang yang sedikit bermurah hati menafkahkan rezekinya.

Lucu begitu rasa dan aroma yang selama ini diacuhkan banyak orang bisa menjadi alat pengenang masa lalu. Mereka seperti menyekap dan membelenggu seseorang, memkasanya menoleh ke masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam oleh orang yang bersangkutan. Mereka seperti hantu yang berwujud, diam-diam mencengkeram dari belakang.

Raina menghirup kopinya. Entah syaraf-syaraf apa yang dihidupkan oleh kopi ini ketika ia tersentakkan dan dipaksa bangun untuk merangkai jaring-jaring kehidupan di atas kertasnya. Raina tidak melukis. Ia merangkai dan memutus jaring-jaring kehidupan, membingkai dan menempelkan di tempat yang dirasa cocok.

Raina merasa bisa menjadi Tuhan dalam dunianya sendiri dengan menulis. Ia menuliskan nasibnya dalam versi lain, dengan boneka-boneka takdir tanpa daya yang akan menurut segala kehendaknya. Ia menjungkirkan fakta, membolak-balikkan kenyataan dan mengguncangnya sekaligus. Lalu ada tiramisu. Kue yang rasanya bagai ambrosia, minuman para dewa.

Raina mungkin perwujudan dari Prometheus, yang dihukum karena melanggar kekuasaannya sendiri. Prometheus yang terjebak dalam keabsurdan hidup, dalam ketragisan heroik. Apakah semua pahlawan yang tragis sebenarnya bodoh? Mungkin akan ada saatnya sebuah literatur Jawa akan mengatakan bahwa Kurawa sebenarnya pintar karena mereka mampu mengatur strategi untuk merebut sesuatu dan menjadikan hal itu milik mereka, dan bukannya nrimo tanpa perlawanan!

Ketragisan heroik dan hukum rimba yang setali tiga uang. Siapa yang bilang hukum rimba yang diterapkan di pergaulan manusia itu hanya ada di kota-kota besar, atau bahkan lebih spesifiknya, di Ibu Kota? Raina tersenyum sinis. Hukum rimba sudah ada saat manusia pertama kali diciptakan! Hukum rimba telah ada saat Qabil membunuh Habil. Saat jerapah berleher pendek tak mampu beradaptasi dan harus punah karena tak mampu menjangkau daun di pepohonan yang tinggi.

Mungkin pengemis di luar itu adalah hasil dari hukum rimba, seleksi alam tak kenal batas yang membuatnya tak kenal akan rasa manis dan lembut tiramisu ini. Mungkin rasa matahari dan hujan lebih meresap ke dalam tulang-tulangnya, sehingga senyuman kepuasan dan terima kasih itu bahkan terlihat lebih indah daripada senyuman lelaki setengah baya di hadapan Raina yang sedari tadi mengaduk-ngaduk kopi pekat dalam cangkirnya dengan ekspresi wajah orang yang bisa melihat dunia dan seisinya dengan cupu manik Astagina.

Raina ingin berlari keluar dan meminta pengemis itu bertutur, mungkin memintanya mencicipi sesuap tiramisu ini dan mendengar tawanya. Mungkin tawa pengemis itu akan terdengar merdu dan jernih seperti mata air yang telah menembus peradaban, yang bergema membius hutan-hutan dengan gemericikannya.

Raina ingin berbicara tentang patriotisme, tentang nasionalisme, tentang merah dan putih, tentang darah dan tulang, tentang tanah dan air dalam buku-bukunya. Ia ingin mengejawantahkan tawa pengemis yang tak kunjung terdengar, mendeskripsikan rasa tiramisu, menurunkan hujan di gurun yang selebat hujan di pegunungan. Kata-kata saja tak cukup. Kata-kata kadang menggagalkan Raina, menyeret ekspresi-ekspresi di sekelilingnya hingga ke titik terendah dan bukan melambungkannya ke titik zenith.

Inspirasi dan bukan sekedar sesuap nasi. Suatu pilihan yang sulit. Segala sesuatu yang bertabrakan kadang bisa berakibat seperti asteroid yang menimbulkan hujan meteor, meskipun dengan hasil tak seindah hujan meteor. Raina sudah memanfaatkan kesepuluh jarinya untuk mendapat apa yang ia inginkan sejauh yang ia ingat. Jika tidak, air mata adalah senjata pamungkasnya. Pada dasarnya manusia mungkin tidak pernah benar-benar tumbuh dari saat mereka bayi. Kepolosan tangisan bayi bahkan telah digugurkan oleh satu jenis tangisan lain dengan tujuan sama, mendapatkan apa yang diinginkan.

Masih adegan yang sama. Raina, tiramisu dan kopi. Bahkan juga adegan yang sama masih terulang, ketika sebuah suara yang memanggilnya untuk mengajak pulang kembali memutus hari itu, memutus kembali adegan-adegan yang tengah berkejaran.Adegan berisi Raina, tiramisu, dan kopi.


Tuesday, June 05, 2007

Me, Myself, and I

Pertanyaan paling susah selama interview: please tell me about yourself, or describe yourself.
Kenapa ya? Masalahnya kadang saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Nama, umur, sekolah/pendidikan dan hobi? Atau gambaran personality pribadi?

Entah kenapa dua-duanya terkesan janggal, dan saya merasa sejauh ini belum pernah meninggalkan kesan yang benar-benar mendalam setelah diacuhkan pertanyaan seperti ini. Mungkin karena pertanyaan ini sebenarnya merupakan satu dari sekian banyak pertanyaan yang belum tentu terjawab oleh manusia bahkan sampai akhir hidupnya. Bukan begitu?

Kadang saya coba buka lagi deretan testimonial di friendster, yang secara halus disebut seseorang sebagai "upaya untuk menutupi aib yang punya friendster" :) ternyata pun belum berhasil.Mungkin sebelum memahami orang lain, mencoba memahami diri sendiri dulu yah. Dan itulah yang paling susah :D

Monday, May 28, 2007

To Read or Not to Read

Dear All,

minta tolong sedikit ya, bisa kasih tahu tentang buku atau film favorit kalian? Terus kenapa suka sama film/buku itu? Bisa ceritain sedikit tentang plotnya?

I'd really appreciate that. Thanks :).

Best,
Adilla

Friday, May 25, 2007

Sneeze Me, Squeeze Me, Please

Dari dulu yours truly punya sedikit 'quirk'. Setiap kali stressed, repressed, compressed, kulit jadi merah dan gatel-gatel. Setiap kali selesai ulangan Kimia, tangan langsung merah. Sehabis ulangan Matematika, migrain langsung kumat.

Beberapa hari kurang tidur, pilek langsung kambuh. Dulu waktu jaman SD, pilek kambuh hampir setiap hari Jum'at. Waktu SMP, jam tayangnya pindah ke hari Selasa, dan biasanya bersin parahnya kambuh waktu pelajaran bahasa Inggris sampai ada temen yang keheranan dan nanya, 'kamu alergi sama bapak guru yang ngajar ya?'.

Tapi sedikit 'flaws' ini cuma buat ngingetin ya, supaya tetep bersyukur dalam kondisi apapun :). Buat ngurang-ngurangin dosa juga dan bikin sadar akan kelemahan diri sebagai human yang toh dengan adanya 'flaws' gini aja udah tumbang :D.

Best,
Adilla *yang lagi migraine*

Wednesday, May 23, 2007

Alhamdulillah...

I know it's not that much, but this is just for the first time. I didn't expect anybody to read such a difficult material, anyway...:)
Alhamdulillah. Sometimes you can't just have all your cake and eat it as well :D.

Tuesday, May 22, 2007

Adigang, Adigung, Adiguno

Pernah denger istilah di atas? Istilah kayak mikul dhuwur mendem jero? Atau memayu hayuning bawana?
Ternyata prinsipnya sama ya...Cara mengerti tentang kehidupan. Filsafat itu susah, tapi kalo dimengerti, isinya cukup untuk menampung semua pasir-pasir ilmu dalam satu wadah.
Satu wadah yang bisa larut dalam tetesan air dari jemari. I wish I could do much better, though.

Fiuhh...

Greetings! :)

Dear all,

holiday means BOOKS. Lots of them ;). And it wouldn't hurt to have several pages typed. Well you know, just in case...Even though my mouth works harder than my brain during these days, if you get what I mean... :P

Best,
Adilla

Friday, May 11, 2007

Falling....and Fast.

Dear You,

thanks for giving me yet another reason to exist. Thank you.

Best,
Adilla

Renungan Bunga Rumput





Kalau bunga rumput itu bisa bicara dia bakal cerita apa ya? Kadang terinjak, tapi lebih sering bergoyang tak tentu arah. Tapi bunga rumput tak perlu cemas akan sederetan huruf yang tertera di kertas. Toh cuma huruf! Tak seharusnya mempengaruhi nasib manusia. Tak seharusnya mempermalukan makhluk yang dianugerahi akal sekaligus nafsu untuk menjadi khalifah. Bukan begitu?

Apa sih makna pendidikan sebenarnya? Jadi pintar? Jadi sarjana? Menambahkan gelar di belakang nama? Atau yang lebih mulia mungkin, menimba ilmu? Makna pendidikan mungkin adalah menghayati hidup, supaya ketika kita berpaling ke belakang di satu titik dalam kehidupan kita, kita bisa tersenyum dan berkata dalam hati bahwa tak ada sedetik pun yang tersia-sia dalam masa yang terlewati. Bahwa kita telah berhasil menjadi manusia yang sanggup memanusiakan manusia lainnya.

Setiap dari kita berbeda. Tapi yang lebih sulit adalah menunjukkan perbedaan itu dan membuat orang lain mengerti dan menghargai bahwa kita memang berbeda, dan tidak ada alasan untuk memaksakan diri kita menjadi sama dengan orang lain. Kata Oscar Wilde, If I'm not worth more than the others, at least I'm different.

Yes, I'm different, and so are you!
Dan sekarang, bagaimana cara membuat perubahan positif dalam kehidupan orang lain dengan siapa kita berinteraksi? Seperti yang penulis sadari, kadangkala sulit untuk tidak menuntut perlakuan tertentu dari orang-orang yang kita anggap dekat. "Kenapa sih mereka begitu? Kenapa mereka memperlakukan saya begini, begitu, dan seterusnya?"

Setiap orang sesungguhnya memiliki sifat egois, hanya kadarnya yang berbeda-beda. It's a no free-lunch world after all. Apa yang ingin kita miliki harus didapatkan dengan usaha, it won't be handed over to us in a silver plate. Kita tidak bisa menuntut orang untuk mengingat dan memperhatikan kita ketika kita tidak ingat dan memperhatikan mereka. Kita tak mungkin meminta lebih dari orang lain ketika kita hampir tak pernah memberi. Ada hak-hak orang lain yang seringkali kita lupakan saat kita menuntut terlalu banyak. Ada senyum dan sapa yang lupa diberikan ketika kita terlalu terfokus pada diri sendiri.

Maka hidup adalah proses pembelajaran. Proses mengajar dan belajar, memberi dan diberi. Sebuah siklus tanpa ujung yang intinya sama, menjadi manusia yang sanggup bertingkah laku selayaknya manusia dan memanusiakan yang lainnya. Ini bukan sekedar cinta, ini adalah emosi yang sanggup menyebabkan gurun tandus menumbuhkan pepohonan di oasisnya, sebuah ungkapan yang menyebabkan biola yang tak berdawai mampu bernyanyi dengan caranya sendiri. Semoga.

Hanya sebuah catatan kecil, rambling dari otak yang mulai lelah. Mohon dimaklumi jika terkesan meloncat. Kadang tangan dan benak ini tak sanggup bersahabat. :)



Sunday, May 06, 2007

Dentang Nadi


Tak ada hari yang kulewatkan tanpa mendengar kini. Bahkan desahan nafas orang yang berdiri di dekatku di bis. Bahkan dentingan jarum di keheningan malam. Atau sentuhan abu rokok di sisi asbak. Semuanya musik bagiku. Kadang kala aku berhalusinasi, sehingga senyuman wanita di depanku ini pun terdengar bersuara bagiku, menyanyikan lagu abadi pengantar tidur.

Bergaungkah kau dalam stalaktit dan stalagmit gua itu? Hidup kita telah melanglang jauh, seperti butiran busa yang tertiup angin, suatu saat akan pecah karena tak mampu melawan tekanan. Kau memberi nama bagi puisi, menghiasinya dengan lidahmu. Dan puisi pun beku karena takut kata-katanya membeku di ujung jemari.

Musik adalah bahasanya sendiri, yang tak memerlukan tata bahasa dan murni, sejuk serta membasahi. Di ujung jemari manusia Tuhan telah menyiapkan bahasa tertinggi, hingga kata-kata pun tak perlu lagi. Lemahlah kita tanpa gaung itu, tanpa gema yang meresap melalui setiap membran jagat raya. Dan tuts-tuts ini? Merekalah saksi bagi terciptanya bahasa itu,

Lalu apa yang disebut lagu pun muncul, seperti semburat matahari di antara pelukan laut. Ia bukan lagi deretan seragam not-not yang berbunyi, melesat seperti peluru ditembakkan oleh goresan pelatuk. Ia bukan lagi gumaman sumbang yang didengungkan orang di kamar mandi. Ia adalah karya, bunyi hati yang bukan lagi hanya sebutir pasir dari jutaan pasir yang berserak di pantai. Karena lagu itu adalah kau. Dan juga aku.

Apakah yang terjadi ketika aku duduk di depan piano ini, dan aku di sisiku dengan pena, mencoba menerka apa yang pernah melintas di benak manusia dan merangkainya seperti kumpulan mawar merah yang dulu rajin kubawakan untukmu? Kita bersatu, sayang. Bukan hanya kulit-kulit yang bersentuhan atau dua mata yang memandang dan tibat-tiba saling mengerti. Ini adalah persatuan takdir dan doa, yang dulu sering saling bertempur di langit, tetapi kembali berpelukan dan berdamai.

Lalu bagaimana aku akan melakukan ini semua kini? Lihatlah, bahkan dinding itu pun bernyanyi lagu yang dulu pernah kita ciptakan bersama! Ingatkah kau? Hari itu hujan turun deras sekali, dan aku amat gelisah, hingga jemariku tak sanggup berhent bergerak. Moonlight Sonata pun kumainkan, dan kau bersenandung, menggumamkan kata-kata yang pernah kautulis di buku harianmu beberapa hari yang lalu.

Terciptalah lagu itu, Sayang. Kita mendengarkannya melalui beberapa malam, merasakannya bukan hanya dengan telinga, tapi dengan segenap indera yang semuanya terbangun dan turut bersenandung. Lalu kita berdoa, berharap lagu itu akan membawa kebahagiaan bagi mereka yang mendengar, membawa senyum dalam tiap notasinya, menyeret duka dalam setiap liriknya, dan menggetarkan pada tiap biramanya.

Apa yang bisa kulakukan kini? Saat setiap benda di ruangan ini menyebutkan namamu pada bibir-bibir mereka yang tak terlihat, dan mendesakku untuk mengajak mereka bernyanyi dalam pertunjukan kita. Mungkinkah aku akan bisa berdiri di depan mereka semua, menyatukan suara dari deritan kursi dan dentingan sendok, hingga suara gemericik air keran ini? Mereka tak akan paham lagu-lagu kita, Sayang. Tak akan pernah mengerti bahwa menyanyi tak sekedar berupa menghafal lirik dan menarik nafas. Tak akan pernah.

Ingatkah kau akan penyanyi-penyanyi itu? Yang berharap mereka bisa meraup setiap keping dengan menyanyikan lagu kita. Atau mendesahkan kata-kata dalam lagu itu, yang dengan beraninya mereka sebut menyanyi. Menyesalkah kau bahwa kita pernah menjadi bagian dari mereka? Telahkah kita menjadi bagian dari mesin uang bernama ketenaran yang dahulu telah kau tinggalkan jauh-jauh di belakangmu?
Hidup kita adalah panggung ini. Dimana ratusan bahkan ribuan penonton datang hanya untuk mendengarku mengetukkan jemari ke tuts-tuts piano ini. Tepuk tangan itu begitu indah terdengar Sayang, tapi tak ada yang lebih indah daripada menyebutkan nama kita di akhir lagu, dan untuk selanjutnya menatap matamu dan tiba-tiba mengerti, mengapa aku harus berada di panggung ini.

Kadang di sela-sela waktu yang kita habiskan untuk menerka-nerka, merekam dan merenung di sisi piano ini, kau bertanya tentang penciptaan. Tentang awan-awan yang begitu damai berarak di langit, dan tak pernah sekalipun merasa terganggu oleh tangisan hujan, kegalakan matahari ataupun hardikan halilintar. Inginkah kau menjadi seperti itu? Tak tergoyahkan atas apapun yang terjadi, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Inginkah kau?

Tapi tanpa tepukan tangan itu pun pasti kita bisa hidup di panggung ini. Benarkah? Kita hanya dua insan, yang sama-sama memasuki panggung ini dari panggung belakang, memulai pertunjukan, berlutut dan menerima tepukan tangan penuh basa-basi yang monoton. Itukah pertunjukan yang kita inginkan?

Betapa bosannya Pencipta kita tentunya, ketika ciptaan-ciptaannya yang seharusnya hanya berakting, menari, menyanyi untuknya tiba-tiba kehilangan arah. Nyanyian mereka terdengar sumbang, dialog mereka kosong dan tak bermakna, dan tarian mereka kehilangan koreografi. Bukankah sebenarnya semuanya kita tujukan pada-Nya pada akhirnya? Dan semua yang bukan karena-Nya akan berakhir sia-sia, begitulah selalu yang kau ceritakan waktu itu.

Apakah ada yang salah denganku kini? Begitu mudah benakku merekam segala notasi biarpun itu hanya berupa coretan di buku musikku. Tapi tak seraut wajahpun yang kutemui kini bisa kuingat, kecuali bahwa mereka secara diam-diam menyanyikan lagu kita. Kemarin aku melalui sebuah gedung yang tengah dibangun, dan benturan palu serta suara mesin-mesin itu menyanyikan lagu kita, bergema mesra di kepalaku. Mungkin aku sudah gila. Sudah gila.

Aku telah berusaha sepanjang malam kini. Menulis dan menekan tuts-tuts piano itu dengan kekosongan memenuhi jiwaku, dan segelas kafein cair ini merasuk ke syaraf-syaraf dan menyentakkan mereka hingga terus terjaga. Tak pernah rasanya aku berusaha sekeras ini. Benakku terus mengatakan, dua hari lagi, dua hari lagi dan semuanya akan usai.

Lagu itu akhirnya jadi. Dan malam ini adalah puncaknya, dimana aku dan kau akan bersatu lagi di panggung. Dengarlah tepuk tangan itu akan terdengar lagi. Kali ini bukanlah hanya hentakan dari dua tangan yang bertemu dan menghasilkan bunyi, tapi benar-benar detak kekaguman, picuan adrenalin yang menghasilkan debaran kegembiraan dan kepuasan.

Ini bukanlah requiem perngantar kematianmu. Tapi mungkin ini lagu perpisahanku dengan panggung yang telah sangat kita kenal ini. Begitupun aku masih rindu suasana itu, masih ingin merasakan gegap gempita ini, ataupun wangi malam yang berbaur dalam gedung dengan kapasitas ribuan orang yang dulu terasa mengurung, tapi kini hanyalah rumah kedua yang ingin kita kunjungi setiap saat.

Aku telah menghentakkan notasi terakhirku, Sayang. Dan dengarlah, dengarlah dengan segenap inderamu! Tirai kembali tertutup, membiarkanku dengan nafas memburu, masih tak sadarkan diri dari ekstasi yang tadi membelenggu. Kini aku punya dua pilihan. Mewujudkan requiem ini menjadi kenyataan, pengantarku menuju tidur abadi, ataupun terus melanglang di atas dunia ini, dan melihatmu tersenyum di atas sana. Aku bersumpah padamu mulai detik ini untuk memilih yang kedua. Maka jadilah saksi akan lahirnya karya-karya lain, Sayang. Jadilah saksi untukku yang hidup bagi dua nyawa di panggung ini, nyawamu dan nyawaku.

Tuesday, May 01, 2007

To Deserve or Not To Deserve

A classic question really. but unfathomable nonetheless. Who are we people to judge anyway? True blue that people always want the best for themselves, yet they do almost nothing to gain it.
It's no-free-lunch world after all, what we see is what we get, and yet, we couldn't get it for free. Not anymore.

Now I'm confused. I really want to be more relax and have the much needed I-just-couldn't-care-less attitude. But I can't. And will never have it probably. Sometimes it looks unfair, yes I know, but maybe we can't be too demanding in dealing with life. When it rains, it pours, and it does not mean bad. Not at all.

Prayer is all we need I guess. So sorry I can't be too supportive myself. It's just that I may be too engulfed in my own thoughts. It takes two to tango, and I can't thank you enough, I really can't. You have sacrificed much more and deserve much more than what you already have (and I really do hope you have more than what you have now!). Maybe we have become a burden to you. I'm so sorry. Because Allah gives us what we need instead of what we want. Probably it's not the right time. Yet.

Edited: Mungkin benar kita tidak harus bahagia. Mungkin the Pursuit of Happiness cuma simbol, dan American Dream cuma sesuatu yang didengungkan Fitzgerald dalam the Jazz Age, era yang dia ciptakan sendiri. Selalu ada alasan untuk merasa tidak bahagia, tetapi selalu kurang alasan untuk merasa bahagia. Mungkin itu cuma sekedar konsep, dimana pengejawantahannya ada di hati masing-masing. Bahagia adalah kemampuan bersyukur dan wanting what you have, not having what you want :). I suppose I have much more things in the world that make me happy than things that possibly would make me unhappy. Alhamdulillah :).

Monday, April 30, 2007

The Frog Princess

Found this in Career Magazine given freely by NBS :). Quite funny I guess ;), and no offense to you, readers :).

An engineer was crossing a road one day when a frog called out to him," If you kiss me, I'll turn into a beautiful princess." He bent over, picked up the frog and put it in his pocket.

The frog spoke up again and said," If you kiss me and turn me back into a beautiful princess, I will stay with you for one week." The engineer took the forg out of his pocket, smiled at it, and returned it to the pocket.

The frog the cried out,"If you kiss me and I turn back into a princess, I'll stay with you and do anything you want." Again the engineer took the frog out, smiled at it, and put it back into his pocket.

Finally, the frog asked,"What is the matter? I've told you I'm a beautiful princess, that I'll stay with you for a week and do anything you want. Why won't you kiss me?

The engineer said," Look, I'm an engineer. I don't have time for a girlfriend, but a talking frog, now that's cool."

Thursday, April 26, 2007

Kucing

it looks a lot like me...wonder whether doppelganger can be in the form of other creatures? Honestly.


Kucing



Saskia tidak ingat sejak kapan ia dan kucing begitu akrab. Tidak hanya menjadi penghias meja belajarnya, tetapi juga menjadi logo di tasnya, hiasan di bajunya, dan bahkan ia pun jadi suka membelai-belai kucing!
Entah mengapa….Mungkin sejak ia membaca bahwa kucing memiliki sembilan nyawa. Atau mungkin karena ia melihat seekor kucing kecil dengan mata seindah manikam. Mungkin ia telah jatuh cinta pada kucing.


Dan Saskia benar-benar tergila-gila. Bukan hanya membelai kucing yang ditemuinya di jalan, tetapi ia juga mulai membawa kucing-kucing itu di rumah. Dan mereka menjadi temannya yang setia. Tak peduli berapa potong ikan asin terbuang dari meja makan keluarga mereka. Tak peduli ikan asin itu hilang dicuri, atau memang sengaja dihibahkan dalam piring kecil beserta segelas susu. Saskia kini tak pernah peduli lagi.


Saskia yang dulu amat gemar berdandan. Pitanya berserakan, jepitan rambutnya tak terbilang. Sisir teselip rapi di saku tasnya.Begitu juga dengan lipgloss, lipbalm, lipstik, segala macam kosmetik, sebut saja, Saskia memilikinya! Tapi sekarang? Saskia tak punya waktu bahkan untuk menyisir rambutnya. Yang dahulu benar-benar seperti mahkota yang berbicara, menjadi bagian terindah dari dirinya. Saskia tak peduli.


Saskia percaya kini, bahwa wanita yang belum menikah akan membutuhkan kucing hingga ajal menemuinya. Siapa yang tidak? Bahkan tukang sayur pun akan membutuhkan seekor kucing! Kini Saskia sudah tidak lagi mengoleksi. Ia terobsesi. Kucing belang hitam putih, kucing tiga warna, bahkan kucing hitam pekat yang dianggap sebagai pembawa sial!


Saskia kini nyaris tak pernah makan, kecuali sesuap dua suap roti yang disodorkan mama, yang telah begitu khawatir akan keadaan Saskia. Saskia yang mengurus, kali ini bukan karena berdiet mempertahankan berat badan, tapi karena terang-terangan menolak makan dan mengurangi jatah makan agar kucing-kucingnya tetap terurus. Kini bukan lagi pil-pil pengurus dengan berjuta janji dan model-model bertubuh langsing yang tak pernah mencoba produk itu sendiri. Kini yang ada hanya Saskia, yang semakin lama semakin kurus.


Kucing-kucing itu seperti tak peduli pada majikannya. Mereka mengeong kapan saja, mencakar apa saja, dan kini telah berubah dari makhluk-makhluk kecil menjadi monster penghancur yang menerkam apa saja di depan mereka. Tirai berhamburan, isi bantal pun entah dimana. Semua kesal, semua bingung, Saskia hanya tersenyum. Hanya tersenyum.


Saskia percaya dulu dirinya adalah seekor kucing, mungkin di kehidupannya yang lalu. Yang sibuk memandikan dirinya sendiri dengan lidahnya, dan kadangkala berkaca di kebeningan air. Ah, betapa Saskia berharap dirinya akan terlahir kembali sebagai seekor kucing nantinya! Yang cantik, dengan bulu bersih bersinar, melenggok penuh percaya diri. Yang hanya mengeong dan sepiring susu dan makanan telah tersaji di hadapan! Saskia sungguh berharap dirinya dapat menjadi seekor kucing.


Saskia pun berlatihlah. Ia kini tak lagi makan dengan tangannya, duduk rapat di atas meja dengan kesopanan yang dibuat-buat. Saskia yang sekarang adalah Saskia yang makan dengan keempat anggota geraknya menjejak tanah, menjilati susu dari mangkuk kecil, dan menyelesaikan makanannya dengan wajah belepotan dan kepuasan.


Saskia juga belajar mengeong. Tak ada lagi lengkingan yang dulu ia pelajari dari sekolah bermusik. Tak terpakai lagi piano yang dibeli dahulu sebagai penghias ruang tamu, karena tak ada yang sanggup. Saskia ia bicara dari hati nuraninya, dan ia mengeong, mengeong dan mengeong. Sepanjang malam, tak ada yang bisa menghentikan Saskia.


Dan peristiwa itu pun terjadilah. Makhluk bernama manusia mulai merasa cemas akan keadaan Saskia, yang telah menipu segenap inderanya hanya untuk menyerupai sesosok makhluk hidup lain bernama kucing. Saskia menemukan dirinya telah terpinggirkan, di sebuah tempat dimana hanya ia dan kucing-kucingnya tinggal. Tapi Saskia bahagia. Begitu bahagianya sehingga ingatan masa lalunya telah terhapus. Kini hanya tinggal Saskia dan kucing-kucingnya. Saskia dan kucing-kucingnya.


Hari itu kehebohan terjadi. Mungkin telah ada pembunuhan sadis lagi, yang mana di ibukota ini nama korbannya akan terlupakan dari ingatan begitu halaman koran itu dibalik. Yang mana sejumput kejahatan adalah penghias sekaligus pemanis agar koran-koran itu laris terjual. Tapi kali ini berbeda. Beritanya adalah tentang seorang wanita yang telah ditemukan tewas, dikelilingi sepasukan kucing yang ribut mengeong. Nama wanita itu Saskia, yang sempat didengungkan beberapa hari di lidah orang-orang yang menyayangkan nasib yang telah menjemput salah satu dari mereka. Hanya mereka tidak tahu, bahwa Saskia tersenyum dalam tidur abadinya, tidur yang terjadi setelah ia mewujudkan mimpi reinkarnasinya. Saskia sunggub bahagia.

Friday, April 20, 2007

Upon Request :)


Quote from Nyo: Yang paling dekat dengan kita adalah kematian, yang paling jauh dengan kita adalah masa lalu, yang paling besar adalah nafsu, yang paling tajam adalah lidah, yang paling berat adalah amanah dan yang paling ringan adalah meninggalkan sholat.

Pencuri Hujan
Hujan, hujan kenapa tak pernah kau datang? Ia mencuri bimbang, mengundang berang, memanggil sayang. Gadis itu bernyanyi lagi dalam tidurnya. Ingin ia meminum hujan, menyerakkannya lagi ke dalam kendi-kendi air yang tak pernah penuh terisi. Rintik namanya, Rintik panggilannya.
Tidak ada yang tahu nama aslinya. Setiap orang akan tersenyum, mengelus dada, bahkan menawarkan payung ketika Rintik mulai menari di kala hujan. Tidak ada yang sanggup mengalahkan senyuman itu, bahkan sang matahari sekalipun. Rintik akan berbicara dengan rintik hujan yang memukul-mukul genderang tanah kuat-kuat dengan bahasanya sendiri. Dan jika ia lelah, hanya waktu yang sanggup memulihkan Rintik. Hanya waktu.
Dulu, dulu sekali, mungkin air susu ibunda Rintik telah tercampur dengan cairan semesta itu, memabukkannya dan mengingatkan bayi mungil itu akan asal-usulnya, saat gumpalan darah itu masih berupa sebongkah daging tak bernyawa, saat janji untuk bertakwa tertutur di hadapan-Nya. Sungguh Rintik dan hujan tak pernah terpisahkan.
Tapi kali ini pencuri Hujan sungguh telah berulah dan mengesalkan hati Rintik. Ia kehausan, ia kepanasan, ia kegerahan. Tak ada yang lebih mengesalkan Rintik daripada kumpulan awan hitam yang tak melahirkan hujan. Tak setetespun sempat mengenai tenggorokan Rintik sedari kemarin. Kakinya telah lelah mencari hujan, sementara awan yang ia tanyai hanya menggeleng, walaupun mereka iba melihat keadaan Rintik.
Rintik menaiki kereta pelangi, bergumam sendiri dalam tidurnya. Hujan, kemanakah engkau? Bahkan hanya butirannya pun akan memuaskan tangan mungil itu, untuk menggenggamnya, merasakan celah-celah itu menelusup ke sela-sela telapaknya. Tapi hingga pemberhentian terakhir kereta pelangi, tidak ada hujan sama sekali. Rintik kecewa, sungguh sangat kecewa.
Dulu Rintik pernah mendengar kisah tentang samudera, dengan anak-anak benua di sekelilingnya. Betapa samudra iu berkorban, menelan segenap racun yang diteteskan makhluk bernama manusia. Membiarkan tubuhnya ditoreh dan dikotori, dicemari dan warna itu pudar dan tergantikan. Membiarkan kesuciannya dipertanyakan, dan wujudnya ditertawakan. Rintik selalu meneteskan air mata setiap kali mendengar kisah Samudra.
Ketika banjir tiba, Rintik tahu hujan tengah menikmati momennya. Ia takkan pernah membalas dendam, seperti apapun kerusakan terjadi di muka bumi ini. Hujan hanya ingin menunjukkan dirinya, yang telah lama terkubur jauh dari ingatan manusia, bahwa derapan lembutnya pun bisa menjadi hantaman tak terduga. Bahwa kelembutannya pun menyimpan kekuatan sunyi yang bisa membahayakan.
Kali ini Rintik benar-benar mengelus dada. Mungkinkah hujan telah lelah dan malas bertandang biarpun hanya untuk menyapanya? Kesalkah hujan karena manusia tidak pernah sedikitpun melambaikan tangan kepadanya ketika ia bertamu di rumah-rumah mereka? Ataukah hujan telah takut pada caci maki manusia yang terucap ketika banjir datang? Tak tahukah hujan, bahwa pada saat ia datang, Rintik tidak hanya bermain-main tetapi berdoa sepuas-puasnya agar doanya terkabulkan?
Rintik masih begitu kecewa, ketika akhirnya beberapa hari kemudian tersiar kabar bahwa hujan telah dicuri oleh Sang Pencuri Hujan, yang mengancam akan menghadiahkan Halilintar dan Petir jika ada yang berani mengambil kembali hujan darinya. Betapa Rintik terkejut! Ia tak mungkin hidup tanpa hujan, begitupun makhluk hidup di sekelilingnya. Rintik harus mengambil kembali hujan, harus.
Perjalanan Rintik mencari hujan pun mulailah. Betapa tubuh kecil nan lemah itu berusaha tegak meskipun kadang diombang-ambingkan angin yang menggodanya. Kadang ia terpekik kagum melihat pemandangan di sekelilingnya, kadang pula rapat matanya terpejam karena ia begitu ketakutan. Rintik tahu hujan tak mungkin disembunyikan di hutan. Karena ia telah menjelajah hingga kakinya lelah, sembari berteriak-teriak memanggil nama hujan, tetapi yang membalas hanyalah gema dan gaung.
Beberapa kali Rintik harus berhenti dan bertanya, menanyakan jejak-jejak hujan pada langit yang menaungi tempat yang dilewatinya. Awan-awan menggeleng, tetapi karena mereka merasa iba, sering kali beberapa menawarkan tetes-tetes hujan yang masih mereka miliki, memuaskan dahaga Rintik yang telah lelah berjalan hingga kedua kakinya tak sanggup lagi bergerak.
Mungkin Rintik adalah perwujudan gadis penjual korek api, yang terus menerus menyalakan koreknya di tengah udara dingin seraya membayangkan aneka macam kesenangan yang tak pernah didapatkannya, atau yang dahulu bisa ia dapatkan tapi tidak lagi kini. Ya, Rintik membayangkan betapa bahagianya jika ia dan hujan bisa bertemu lagi, dimana jiwa mereka berpelukan dan bersatu dalam satu tarian bumi, yang takkan mampu ditirukan siapa saja.
Rintik tertunduk mengamati tanah di bawah telapak kakinya, yang telah jatuh sakit karena rindu pada hujan. Bagaimana mereka akan bertahan dan menghibur tanaman-tanaman yang ada berpijak kuat pada mereka jika kini mereka hanya terkulai lemas? Rintik tahu bunga-bunga tidak akan bisa menyanyikan nyanyian musim mereka jika tanah yang menopang mereka jatuh sakit.
Rintik terus menerus berjalan, melewati beberapa oasis yang mengobati fatamorgananya. Melalui bukit-bukit dengan batu-batu tajam yang siap menggores kakinya. Tubuh kecil itu terus berjalan, mencari Pencuri Hujan yang menyekap hujan di guanya. Sesekali Rintik berteriak, menyerukan nama hujan sehingga segala makhluk di sekelilingnya terjaga, dan menyemangati Rintik karena mereka juga merindukan hujan.
Itulah dia. Sang Pencuri Hujan. Rintik tak mampu berkata-kata. Segala ucapan yang disimpannya kini terlarut begitu saja di tenggorokan, tak mampu mengalir keluar dari bibirnya. Pencuri Hujan tersenyum, dan seolah sudah tahu maksud kedatangan Rintik, hanya menyilakan gadis itu masuk ke tempat tinggalnya. Rintik menurut, segenap inderanya kini sudah tak mampu melawan lagi.Teringat ia akan kabar burung bahwa Pencuri Hujan akan menghadiahkan Petir dan Halilintar bagi siapapun yang berani mengambil kembali hujan. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa Pencuri Hujan akan melakukan itu. Senyum malah tak pernah lepas dari dirinya.
“Rintik, hujan telah sangat bahagia disini, aku meragukan dia akan mau pulang.”
“Percayalah Pencuri Hujan, hujan akan lebih bahagia jika ia boleh menjadi perantara kehidupan, membantu memberi nafas pada teman-teman, berdansa dan menari kembali, menyatukan jiwanya dengan angin semilir.Dahulu hujan sangat bahagia.”
“Dahulu, Rintik. Tak dapatkah kaudengar erangannya di sela-sela senyumnya? Air matanya di balik tawanya? Kalian tak akan mampu merawat hujan. Biarlah mereka merengek terlebih dahulu, biarlah ketiadaan hujan membuka mata mereka yang dahulu dibutakan oleh keegoisan mereka. Hujan akan tetap ada disini.”
Perdebatan Rintik dan Pencuri Hujan berlangsung sangat lama, hingga akhirnya Pencuri Hujan melepaskan hujan dengan mengajukan syarat, bahwa hujan harus dirawat baik-baik, didengarkan nyanyiannya dan dicintai kehadirannya. Rintik sangat bersuka cita. Digamitnya tangan hujan untuk diajak kembali ke negerinya, negeri tempat dimana manusia-manusianya akan berdoa dan mengucap syukur saat hujan kembali menyapa.
Rintik tersentak kaget dari tidurnya. Bus yang ia tumpangi sudah sampai di terminal tujuan. Kenyataannya telah menyentakkannya dari mimpi yang sedemikian indah. Mimpi bagi penghuni negeri dimana kekeringan telah berbulan-bulan melanda. Mimpi seorang gadis pecinta hujan yang kini harus berjuang sendirian. Mimpi.

Monday, April 09, 2007

Why NBS is Cool :D




Why NBS is cool :D


Here are ten reasons why it's cool to be a part of NBS students population :P

1. You reign (almost) the whole part of South Spine, well, excluding the part where other students from many different courses invade your classes, and spend hours to do presentation dry run

2. People are very friendly, and think that asking as many as 10 questions when you're presenting is a nice gesture

3. When you wear a certain type of clothing, and are the only one who wears that in your course specialization, it will be almost impossible to snuck in a classroom when you're late, without causing such a hoo-ha.

4. The lifts are interesting. Sometimes you just have to take them to go to B3 from B2, and find yourself half-mashed during the journey.

5. Most of NBS students think that 6-hour meeting is a new form of sport, especially the one involving mouth-contraction and half-sleeping in between.

6. You get to wear high heels, and sometimes will break one of the heels during a walk back hall, only to find out later that repairing the heels will cost as much as twice the whole pair of shoes.

7. There are 3 types of students, they who are lucky enough to enrolled in double major and whose names listed in the Dean's list, they, who are equally lucky to get enrolled in double major, and...they, who are also lucky to get their names listed....in the attendance list.

8. It is a miracle how we (until now) can get the projects done while doing it half-sitting and half-standing in the jammed free access lab.

9. It always takes at least 3-hour nap after each exam to stop the smokes coming from your head.

10. In the beginning of each semester you'll find yourself praying that the course coordinators would somehow find a way to meet up and let each other know that they have planned to give the students at least 5 presentation assignments during the 12-week courses. But as usual, you'll end up getting 5 presentation assignments for EACH subject, and can't stop wondering whether the actual professors were kidnapped and replaced by aliens planning to take over the world.