Tuesday, March 06, 2007

MBTI Jokes

MBTI type jokes


Taken from here.


I need a good laugh. Seriously :P.


Light Bulb Jokes


We asked...how many of your type does it take to change a light bulb?


The answers:






ISTJ

One worked in the past, so one will work now!








ISFJ


Only one, me, as long as it is OK with everyone else.



>


INFJ

Does the light bulb really want to be changed?






INTJ


Could you please define change? And what exactly do you mean by a light bulb?





ISTP


I



ISFP


O, the ISFP is happy just sitting there and experiencing the dark





INFP


2, one to change it and one for support





INTP


Hmm...light..., illuminate..., I=10.76LT(I/4f)(F/V)² Hcos40+If





ESTP


None, till I check the breaker.



ESFP

Who cares - the important thing is that it would be fun!






ENFP

Well let's see, there's one to notice the bulb is out, and one to make a new lampshade, and one to read a magazine article on alternative lighting means, and one to draw a picture of a candle, and...




ENTP


One, but only after tightening, wiggling, shaking, testing, etc. to make sure it's not something else




ESTJ


The cost/benefit ratio would dictate only one.






ESFJ


At least 2 - let me get on the phone and call someone to come over...





ENFJ


But that was my favorite light bulb!





ENTJ


YOU!!! CHANGE THAT DAMN BULB!!!


Monday, March 05, 2007

Top 20 Fictional Guys










My own...errr..bimbo-ish list. Add your own!! :D


Top 20 Fictional Guys


1. Draco Malfoy (Harry Potter)


2. Arjuna (Mahabharata)



3. Rhys Williams (Bloodline, Sidney Sheldon)



4. Harry Potter (Harry Potter)



5. Masumi Hayami (Garasu no Kamen)


6. Andre Grandier (Rose of Versailles)


7. Shinichi Kudo (Case Closed)



8. Saguru Hakuba (Case Closed)


9. Hercule Poirot (Hercule Poirot)


10. Mickey Mouse (Disney)



11. Sherlock Holmes (Sherlock Holmes)



12.James Sabine (Playing James)



13. Luke Brandon (Shopaholic Series)



14. Mark Darcy (Bridget Jones's Diary, Helen Fielding)



15. Cooper Cartwright (Size 12 Is Not Fat, Meg Cabot)



16. Michael Moscovitz (Princess Diaries)



17. Mr. Darcy (Pride and Prejudice, Jane Austen)



18. Jess Mariano (Gilmore Girls)



19. Archie Andrews (Betty and Veronica)



20. Kid the Phantom Thief (Case Closed)

Saturday, February 17, 2007

Dear Old Girl... (Part 1)



"A woman's always younger than a man of equal years."
Elizabeth B.Browning


Dear,


well, I'll split up this "Old Girl series" into some different parts, since there are some things that are more...you know, urgently interesting to do (for the lack of a better world, oh, and is that such a phrase like "urgently interesting"? :P).


A picture speaks thousand words, so just take a look at the picture above (I'll be very glad if you do it :D). Stories later. And yes, THANK YOU, THANK YOU GUYS for MAKING MY DAY. Wonderful as always ;).
Best,
Adilla



Sunday, February 11, 2007

When Enough means Enough



It just happened.No matterhow hard you try, there are some people just won't go along very well with you. And there it goes, as plain as it is.And you find yourself fuming when you realize something is out of place.


You know that some people are uncomfortable with words. Some people are less self-sacrificed compared to others. Some people put less effort to be nice to everyone than the others. Let's put it that way. But do you have to learn it the hard way?


Years and years of expensive education, and you find yourself wondering, what did some people do when they were taught the very basic things like how to respect others the way themselves want to be respected? A nod, a smile, a wave, a friendly conversation, you know, the very basic things? Are we asking too much of those things?


And there you go, learning that you have to join personality course, grooming seminar and all that stuffs, and still, there are some things that can't be learned, except from School of Life.


And even in your old age now, you find yourself stuck in the middle, when trying to be nice to everybody just does not help, because people find it easily to appreciate people that they love madly, no matter how badly or irritatingly they might or might not behave, rather than people who are considered merely bypassers, just a drop of water in their ocean of life.


Never burn a bridge, never hold a grudge against someone. If you happen to be not familiar of all the stuffs, take your time to learn. Listen to others please, even though you think (and maybe you actually are) you are superior than others, or simply have better brains to understand what actually the fabric of cosmos is (this list can go on and on).


It is amazing what years and years living in a society has taught us. Maybe that's the way it's supposed to be. And I couldn't care less. Period.

Monday, February 05, 2007

Sukasrana




Keterangan: Sukasrana adalah adik Patih Sumantri yang terbunuh oleh kakaknya sendiri, karena ia menolak untuk pulang ke padepokannya. Sukasrana telah membantu Sumantri melaksanakan perintah Arjuna Sasrabahu untuk memindahkan taman, tetapi Sumantri khawatir jika Sukasrana menunjukkan dirinya ke Prabu Arjuna Sasrabahu, karena fisik Sukasrana yang menyerupai raksasa kecil. Karena itulah Sumantri meminta Sukasrana pulang dan menakut-nakutinya dengan panah, yang pada akhirnya terlepas dan mengenai Sukasrana.


Sukasrana


Rasa bersalah atau berdosakah yang ada di mata Kakang saat ini? Tolong berhentilah menangis karena tangisan seorang patih agung sepertimu akan mematikan bunga-bunga dan mengeringkan lautan. Sudah, berhentilah. Tidak ada artinya panah ini memanggang tubuhku yang sudah tersia-sia bahkan sedari aku dilahirkan. Tidak ada.


Mungkin saja begitu aku pergi tak ada yang merawat ayah kita. Akan pulangkah engkau ke pedepokan tempat kita dulu bermain,begitu bebasnya? Kalau saja masa itu bisa terulang. Tak perlulah kau kembali menggendongku saat kita lelah bermain. Tak perlulah kau kembali memandikanku dan menyiapkan makanan untuk kita berdua. Kalau saja…kalau saja kita bisa mengulang saat-saat itu, aku akan menunjukkan padamu bahwa kini aku telah bisa memasak sendiri, memasak pula untuk ayah kita. Kau pasti tersenyum bangga.


Ya, kalau saja tubuh kaku yang kini kulihat bisa bergerak kembali. Aku begitu rindu padamu Kakang Sumantri! Tak dapat kuukur kebahagiaanku saat tersiar kabar bahwa kau telah menjadi patih agung Prabu Arjunasasrabahu, raja agung itu. Kebahagiaan kakang jauh lebih berharga daripada kebahagiaanku.


Kakang, malukah kakang terhadap orang lain karena aku adik Kakang? Kadang aku ingin menyalahkan nasib mengapa aku begitu berbeda. Tapi Ayahanda berkata bahwa menyalahkan nasib sama dengan menyalahkan Gusti Allah ingkang maha kuwoso, benarkan Kakang?


Ayah dahulu akan mengelus kaki buruk rupaku, yang pendek, gemuk dan berbulu, dan mengatakan bahwa kakiku indah, karena aku bisa menggunakannya untuk berjalan, meskipun setiap kali aku berjalan bersama Kakang aku harus berlari karena kaki Kakang jauh lebih panjang dari kakiku. Betapa inginnya aku berlari secepat macan kumbang penghuni hutan dekat padepokan itu, Kakang! Supaya aku tidak pernah lagi kalah darimu setiap saat kita berlomba lari. Tapi walaupun aku kalah, aku tetap bahagia, karena Kakang akan menggendongku yang kelelahan di punggung Kakang yang lebar dan kuat, dan aku akan tertidur sepanjang perjalanan kembali ke padepokan.

Bagaimana kabar danau yang kaubilang bisa memetakan semesta itu, Kakang? Masihkah kejernihan airnya mengalahkan kebeningan matamu, seperti yang kau bilang? Aku tidak setuju, karena aku tidak pernah melihat jawaban-jawaban dari pertanyaanku setiap kali aku berkaca di danau. Tidak seperti setiap aku berkaca di mata Kakang. Karena kejujuran dan kasih sayang Kakanglah yang membuat sepasang kaca itu bersinar sedemikian indahnya.


Setiap kali aku menatap bayanganku di atas danau, aku hanya bisa bergidik. Tapi rasa penasaranku akan semesta yang kaulihat disana membuatku betah berlama-lama menatap bayanganku sendiri. Tapi tak pernah kulihat semesta disana. Dan itu satu-satunya pertanyaanku yang tak pernah kau jawab. Mungkinkah isinya seperti cupu manik astagina yang konon bisa memantulkan bayangan semesta dan seisinya?


Aku terlahir buruk rupa, Kakang. Tak sekalipun Kakang dan Ayahanda memperlakukan aku sekalipun aku sangat berbeda. Tapi, pantaskah manusia diperlakukan berbeda hanya karena penampilan mereka berbeda? Aku belajar dari Ayahanda, beribadah bersama-sama, dan akupun belajar ilmu kesaktian dari beliau. Banggakah kau padaku, Kakang?


Jagat ini sepertinya terlalu tua untuk memuaskan hatiku. Tak pernah, tak pernah kepuasan melecutku hingga ke ujung-ujung nadi. Setiap kali matahari berpamitan untuk tertidur, betapa ingin aku berlari, mencegah dan menangkapnya hingga ia akan berjanji untuk pergi tidur lebih larut keesokan hari, sehingga kita bisa terus bermain dan menjelajah.


Masih ingatkah kau akan sarang semut yang kita temukan di bawah pohon waktu itu? Betapa takjub dan terkesannya aku, karena betapa lubang kecil itu menyimpan ribuan nyawa yang jantungnya berdetak seirama, sibuk bekerja, tapi tanpa pernah lupa memuja penciptanya. Alangkah! Bagaimana Tuhan kita bisa mengingat semua makhluknya dan membagi rezeki-Nya untuk mereka? Aku tak pernah habis pikir. Kau hanya tersenyum dan mengajakku merapal doa, dan mensyukuri apa yang telah kita dapatkan hari itu. Pengalaman, pengalaman, pengalaman.


Aku bertanya tentang perang, Kakang. Tentang panah yang kaumiliki. Tentang tapa-tapa yang engkau jalani. Seperti apakah mematikan panca indera itu? Seperti apakah berdiam diri, menahan haus dan lapar, tanpa ada yang menemani? Bagaimana kau bisa bertahan tidak menyapa rembulan sekali saja dalam tiga puluh hari tapamu? Tak rindukah kau pada aku dan Ayahanda?


Untuk apakah senjata-senjata itu Kakang? Panah-panah itu, akan kau gunakan untuk apa? Janganlah ada tubuh tak berdosa terpanggang olehnya lagi seperti tubuhku, Kakang. Jangan. Karena darah mereka, darah mereka yang membasahi bumi akan berwarna merah, dan membuat kesedihanku tak terkirakan. Berjanjilah padaku untuk tidak menggunakannya lagi. Aku mohon.


Aku begitu larut dalam kesedihan saat Kakang tak ada. Ayahanda menenangkanku, mengatakan bahwa Kakang akan jauh lebih bahagia jika Kakang pergi. Bahagiakah Kakang? Sungguh-sungguh bahagiakah?


Maafkan aku yang menyangsikan kebahagiaan Kakang, tapi sungguh, bagiku Kakang hanya akan bahagia jika kita dan Ayahanda berkumpul bersama. Bukankah darah selalu dan akan selalu lebih kental dari air? Aku hanya segumpal daging dan darah yang tak pernah sanggup dipisahkan dari darah dan daging yang sama di tubuhmu. Maka akupun pergi menyusulmu, Kakang. Aku minta maaf. Sungguh.


Seperti menemukan harta karun di ujung pelangi saat melihatmu, Kakang. Apalagi kau begitu bahagia dalam baju kebesaranmu itu. Patih agung dari seorang raja agung! Apalagi yang bisa aku harapkan dan doakan untukmu? Dan kau begitu bertanggung jawab melaksanakan tugasmu, apapun yang dititahkan Prabu Arjuna Sasrabahu. Alangkah percayanya Kanjeng Prabu pada dirimu, Kakang! Dan betapa bahagianya aku saat kau meminta bantuanku. Hanya saat ini aku bisa begitu berarti bagimu. Kau tak akan pernah tahu betapa besar kebahagiaanku karena aku bisa membantumu sekali ini saja.


Berhentilah menangis Kakang, berhentilah. Aku masih ingin bercerita, masih ingin bercerita walaupun kau sudah tak bisa lagi mendengarku. Izinkan aku bercerita, karena aku ingin menghisap sisa-sisa kebahagiaan dari persaudaraan kita, Kakang. Membiarkan kebahagiaan itu mengawang selamanya di udara, abadi bersama kicauan burung dan hembusan angin, terpatri pada bisikan lembut dedaunan.


Apa yang bisa membuatmu berhenti menangis, Kakang? Aku ingin sekali menceritakan dongeng yang dulu sering dikisahkan Ayahanda setiap kali aku menangis saat menerima ejekan karena wajahku yang buruk rupa ini. Aku ingin membelaimu dengan penuh kasih sayang seperti yang sering kau lakukan setiap kali kita akan pergi tidur. Tapi aku tak sanggup sekarang. Aku tak sanggup.


Kesatria sejati, apakah kesatria sejati itu? Apakah Dharma kesatria itu Kakang? Benarkah membunuh, apapun alasannya adalah juga dharma kesatria? Aku tidak ingin menjadi kesatria jika harus membunuh, Kakang. Dunia ini telah cukup kacau tanpa aku menambah kekacauan di dalamnya lagi. Mari kita pergi ke duniaku yang tenang, yang hanya berisi kita, danau itu, dan juga hutan padepokan.


Waktu seakan berhenti disana, Kakang. Kita takkan pernah menua dan tak pernah tertahan usia untuk melakukan apa yang kita suka. Aku bisa berguling-gulingan, berteriak-teriak dan tertawa lepas seperti yang sering kulakukan dahulu. Kau bisa berlarian, menyelam dan berenang disana. Seperti yang selalu kaulakukan dulu.


Dan kita juga bisa meminta matahari terbit untuk menampakkan senyum lebarnya disana, seperti yang kau suka setiap harinya. Aku lebih menyukainya saat ia telah lelah dan ingin pergi tidur, walaupun itu berarti kita pun harus undur diri dan berisitirahat. Tapi dahulu kau mengatakan bahwa kau lebih suka melihatnya saat masih segar dan hari masih muda, sehingga kau teringat bahwa kita akan memulai hari ini dengan harapan baru yang sama, dan selalu lebih baik dari harapan-harapan lampau.


Penciptaan akan selalu berjalan, seperti perputaran bumi tempat kita berpijak yang tiada hentinya ini. Aku bertanya apalagikah yang akan terjadi selagi aku menutup mata dan menunggu saat pengadilan teradil tiba? Bisakah langit tak lagi biru dan udara tak lagi sejernih ini? Aku takut dan kesepian bila aku sendirian disini, Kakang. Siapakah yang bisa menjamin gunung tak terbalik dan laut tak tumpah nantinya? Bumi gonjang ganjing, langit kelap-kelip…Dunia ini sudah terlalu tua untuk kita, Kakang.


Benarkah wanita dan tahta akan menjadi sumber kekacauan setelah zaman kita berakhir Kakang? Seberapa banyakkah yang harus dipertaruhkan untuk menjelaskan kebenaran dan menyatakan mana hak milik kita yang terebut dan terbengkalai? Kebenaran, apakah kebenaran itu? Haruskah kau mengorbankan hidupmu dan hidup manusia lain untuk sesuatu bernama ‘kebenaran’ yang bahkan tak pernah sanggup kau jelaskan maknanya?


Kesepiankahkah yang kini ada di matamu, Kakang? Aku akan menjemputmu, dan Kakang tak akan pernah kesepian lagi. Kita akan selalu bersama, dan bergandengan tangan menuju pintu langit menghadap Sang Kuasa. Semoga Kakang sanggup menungguku hingga saat itu tiba.
Reinkarnasi itu akan terjadi, seperti sejarah yang tak terelakkan.Jangan pernah menolakku lagi, Kakang. Karena darah dan daging yang dititipkan pada Ayahanda kita seyogyanya adalah satu. Kau akan mengenaliku dari putih darahku, dan aku akan mengenalimu dari putih dan keteguhan hatimu, Kakang. Jangan menangis, sungguh jangan menangis.



Wednesday, January 31, 2007

Size 12 is not fat, Size 14 is not fat, either (both are the titles of Meg Cabot's novels)

Size 12 is not fat, Size 14 is not fat, either (both are the titles of Meg Cabot's novels)

Taken from here. Well, now if they could also lower the price of Mango, that would be cool :D.

Spain resizes clothes for women

Spain is to change its clothing sizes for women. This is part of a Government decision to prevent eating disorders in young girls and women. This report from Pascal Harter:

It's a source of frustration for customers and shop assistants alike that in Spain women tend to go into the changing rooms with an armful of different sizes never knowing which one will fit this time or whether any will fit at all.


But by 2008 those days could be over. Spain's biggest fashion retailers have bowed to Government pressure to standardise their sizes and reflect the real size of Spain's growing population. For the first time ever the National Consumer Institute will measure Spanish females -- more than eight thousand of them to be exact -- between the ages of twelve and seventy. Spanish fashion houses will then try to fit them, rather than the other way round.


They've also agreed to decorate their shop windows with slightly bigger manikins. The Ministry of Health described the current ones as unreal dolls of alien dimensions which it sees as directly encouraging eating disorders such as anorexia. The move is likely to affect women and girls all over the world as international brands such as Mango and Zara have signed up to the agreement.


Pascal Harter, BBC, Barcelona

Sunday, January 21, 2007

A Hero in You :)

Sincerest gratitude goes to Nyo and Puff :). Dan last but definitely not least, Larissa yang udah ngecekin dan komen. Thanks banget, Kak :).

Konsep Hero dan Anti-hero dalam Nasionalisme


“Manusia terbaik di Indonesia adalah seorang penjahat.”
Bagi penggemar film, terutama film Indonesia, tentu kalimat di atas tidak asing lagi. Ya, karena kalimat itu adalah sebuah “slogan” dari film 9 Naga, yang sempat menimbulkan permasalahan, karena jelas, bunyinya cukup mengundang kontroversi. Sebagian berpendapat, slogan itu akan menimbulkan kesan yang sangat buruk terhadap masyarakat Indonesia. Bayangkan saja! Bahkan manusia terbaiknya saja seorang penjahat, bagaimana dengan yang lain?


Pahlawan dan nasionalisme adalah dua hal yang sangat erat berkaitan. Tapi mengapa definisi nasionalisme terkesan begitu kabur dan abstrak? Pertanyaan yang paling mendasar dan selalu lahir bagi nasionalisme adalah definisi dari nasionalisme itu sendiri. Apakah menggunakan dan membeli produk dalam negeri adalah nasionalisme? Ataukah menonton dan menikmati tayangan produksi dalam negeri (yang sayangnya, merupakan hasil adaptasi berlebihan dan daur ulang dari berbagai drama luar, terutama Asia Timur)? Atau serentetan hal lain yang berbau ‘kepahlawanan’?


Di dalam setiap manusia ada seorang pahlawan yang menunggu saatnya beraksi. Dengan konsep seperti ini, rasanya tugas kita bukanlah mengisi kemerdekaan, seperti apa yang sering diajarkan selama kita masih berada di sekolah dasar. Semua dari kita adalah pahlawan, yang sedang berusaha menemukan kembali arti menjadi seorang manusia Indonesia, warga negara Indonesia.


Menjadi pahlawan adalah tetap bisa mengangkat kepala dan tersenyum ketika seorang pengajar menyebutkan betapa kondisi ekonomi semakin diperparah dengan bencana yang tak kunjung habis. Menjadi pahlawan adalah kepedulian. Menjadi pahlawan adalah berbagi senyuman, rasa kesatuan yang tak tersaingi. Menjadi pahlawan adalah kebanggaan. Menjadi pahlawan pada hakikatnya adalah menemukan pahlawan dalam diri masing-masing.


Masih tentang kebanggaan, seberapa banggakah kita dengan predikat bangsa Indonesia? Sebagian besar dari kita pernah mengalami masa-masa dimana menghafal beberapa pasal dari UUD 1945 adalah keharusan. Keharusan karena pasal-pasal itu nantinya akan diujiankan, ditanyakan bunyinya, dan harus ditulis setepat-tepatnya di atas kertas ujian.
Entah kenapa dari sejumlah pasal itu, tidak ada yang menjelaskan, mengapa kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia. Apakah karena kebanggaan itu ssesuatu yang sedemikian abstrak dan sulit dideskripsikan? Saya tidak tahu. Bahkan setelah dewasa pun, sulit untuk menyadari, bahwa kecintaan memang seharusnya tumbuh pada bumi tempat kita dilahirkan, segala sesuatu yang tumbuh di atasnya, dan air yang kita minum.


Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Menghargai diri sendiri dengan berusaha sebaik mungkin, menanyakan lagi pada diri sendiri, apakah di saat (mungkin) segala sesuatu yang bisa dibanggakan telah lenyap, bisakah kita tetap bangga akan asal usul kita?


Right or wrong is my country. .
Peribahasa ini banyak digunakan oleh para pahlawan, yang semata-mata membela tanah air, karena itulah tempat dimana dia berasal. Jika ada suatu kesalahan, yang bersalah adalah masyarakatnya, bangsanya, bukan negaranya.


Adakah yang salah dengan Indonesia dan nasionalismenya? Mungkinkah negara yang dilahirkan oleh para pemikir besar, cendekiawan, dan nasionalis itu telah lelah dan jemu berdiri? Mungkinkah negara dimana pemuda-pemudinya pernah bersumpah untuk bersatu ini sudah tak sanggup lagi mempertahankan ikatannya?


Saya tidak menganggap luas wilayah Indonesia adalah suatu penghalang untuk menyelesaikan masalah. Dalam hal ini kepentingan adalah kuncinya, karena begitu banyak kepentingan yang berbeda telah menjadi penghalang untuk bergerak ke arah yang sama. Begitu banyak perbedaan kepentingan telah menghilangkan warna abu-abu di antara putih dan hitam, sehingga yang ada adalah hero dan anti-hero, pahlawan dan bukan pahlawan (bisa dikatakan “penjahat”?).


Omne solum viro patria est. Every soil is a homeland for a hero.
Sebuah peribahasa latin yang menyejukkan, dan kembali mengingatkan kita, bahwa sangatlah “mudah” untuk menjadi seorang pahlawan. Tidaklah perlu mengangkat senjata seperti yang terjadi di masa silam. Menjadi pahlawan adalah belajar mendefinisikan pahlawan itu sendiri pada awalnya, dan percayalah, memulainya jauh lebih sulit daripada meneruskan.

Wednesday, January 17, 2007

It's Just the Weight of the World...

Lagu ini bagus :).Thanks banget Nyo, atas rekomendasinya :D.

You Are Loved (Don't Give Up)


Don't give up
It's just the weight of the world
When your heart's heavy
I, I will lift it for you


Don't give up
Because you want to be heard
If silence keeps you
I,I will break it for you

Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody wants to be loved
Don't give up
Because you are loved

Don't give up
It's just the hurt that you hide
When you're lost inside
I,I'll be there to find you


Don't give up
Because you want to burn bright
If darkness blinds you
I,I will shine to guide you


Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody needs to be loved

Don't give up
Because...you are loved

Don't give up
It's just the weight of the world


Don't give up
Everyone needs to be loved
You are loved

Saturday, January 13, 2007

Remah Cuaca

As requested.... :)

Remah Cuaca

Seperti biasanya hari ini kita akan memandang langit, dan menerka-nerka, apakah awan itu stratus, kumolunimbus, atau sederetan nama lain yang sukar kueja. Lalu dilanjutkan dengan tawa riang bersama-sama, seolah hidup kita hanyalah sebuah gelembung busa yang mengapung di bak mandi, lincah dan bahagia. Mengambang tak tentu arah, sesekali menepi untuk beristirahat, memetakan noda-noda pada pinggiran bak.


Tentunya ada yang istimewa. Karena hari ini seakan gamelan Lokananta itu berbunyi sendiri, bukan hanya sekali, tetapi dua kali. Kita menemukan dua buah awan dengan bentuk yang menarik. Kau melihatnya seperti meriam yang meneteskan bom dari ujungnya, aku melihatnya seperti pelepah pisang yang lemah karena nyaris mati tersengat kemarau.
Berbeda mungkin. Kemiringan empat puluh lima derajat, diukur busur penggaris seharga lima ratus rupiah yang dulu sering kaupatahkan melenakanku hingga lelap. Kau mencerocos, menceritakan bentuk awan dan apa yang akan kau lakukan bila kau benar-benar ada disana, merengkuh dan membuatnya menjadi adonan.Adonan mimpi yang sedang kupanggang.


Mimpi.Kata itu mengawang lebih tinggi dari apapun yang bisa terjangkau daya pikir kita. Bukankah mimpi adalah sentuhan tangan Sang Pencipta yang mengejawantah? Ia berdetak sepanjang umur manusia berdetak, sepanjang harap masih terajut rapi dengan benang-benang keemasan berwarna matahari.


Matahari. Bahkan saat lampu besar itu menusukku perlahan dengan sinarnya, aku masih tak mampu terbangun, Rumput ini mengelusku hingga aku tidur dengan nyenyaknya, menyanyikan lagu nina bobo sepanjang malam. Tak peduli aku sudah tertidur bahkan ketika mereka baru saja membuka mulut. Bahkan embun yang menyapaku pun tak kuhiraukan, bahkan gelak tawa mereka tak terdengar olehku.


Bagaimana ini semua bisa terjadi? Dan waktu berhenti, menapakimu dengan kaki-kakinya yang kuat dan cepat. Hingga kau pun terjungkal beberapa langkah, dan terlupa bahwa masih begitu banyak bukit yang harus kau daki. Jiwamu lesu dan lelah, tergantung di lembah nadi yang kering tanpa oasis. Benar begitukah?


Oasis. Kesendirian yang mengeringkan. Mungkin saja ia diperlukan, karena gurun pun butuh tangisan kini. Ya, surga kecil yang tak terpencil, tempat menerawang awan yang menari dan larut dalam tangisan hujan. Tempat cairan semesta bersatu, seperti tak ada sekat pemisah yang kejam menyala di antaranya. Seperti kawah dan laharnya.Membuncah. Cairan semesta itu.


Semesta. Menyanyikah ia bersama awan-awan yang kita lihat setiap harinya? Aneh, betapa kata semesta kian hari kian menyempit, hingga mungkin suatu saat ia hanya akan berupa lubang semut yang pernah kita lihat kemarin. Sesak, sungguh sesak. Masih adakah tempat untuk kita bernafas kelak di semesta yang kian menyempit dan menyala perlahan seperti api yang memakan kayu bakar di perapian?


Api. Mungkin kita seperti api dan air. Tidak, tidak berlawanan satu sama lain,tetapi nyalaku bisa kaulenyapkan dengan sejukmu. Dan tinggallah sisa-sisa asap membumbung ke angkasa, membumbui kehidupan yang senyap dan hampa. Asap itu membentuk kisah, berlari dari satu cerobong ke cerobong lainnya. Kadang asap menyebarkan berita buruk yang menyesakkan. Tapi ia begitu lincah dan bahagia. Bahagia.


Bahagia. Apa sebenarnya arti bahagia itu? Bagaimana cara Pencipta kita membahagiakan makhluknya hingga ke ujung nadi dan menerbangkannya seperti serabut dandelion yang mencari habitat baru? Bagiku bahagia adalah urusan Tuhan, karena ia menyergap dan membuangmu tanpa kausadari. Ia ada di depan matamu, tapi kau tak pernah melihatnya. Ia seperti harapan, hanya lebih halus dan tidak kejam.


Kekejaman, Seperti tawa keringmu saat kau melihat predator memangsa mangsanya. Tapi bagi kita bangsa kita adalah yang terkejam, sungguh di atas makhluk Tuhan lainnya. Bagaimana seribu topeng bisa terpasang pada satu wajah yang sama sungguh mengundang pertanyaan. Dan tiba-tiba kelelahan datang, bersatu dengan kesedihan dan kengerian Lalu pembicaraan tentang kekejaman terhenti. Nafas pun membeku dalam keheningan.


Nafas. Mungkin tak kita sadari betapa berharganya setiap hembusan yang kita tuangkan di jendela saat udara dingin untuk menjadi lukisan-lukisan jemari. Ya, betapa lukisan jemari itu kemudian kita jungkirkan kembali dengan hembusan nafas yang memburu, sehingga ia hanya tinggal kenangan, seperti masa kecil yang terbuang di ujung jalan.


Jalan. Ini misteri terbesar dalam hidupku. Siapa pulakah yang telah menciptakan pepatah kasih ibu sepanjang jalan? Pasti ia telah bertemu dengan ibuku, bukankah begitu? Jika ada sebutan Wanita Cinta, pastilah ia pemenangnya. Dalam tubuhku mengalir darahnya, air susunya, liur dan getah, dan sari-sarinya. Cintanya memanggangku seperti setetes air yang memanggang pasir dengan sejuknya. Sungguh.


Pasir, seperti waktu yang menyusup ke celah-celah jariku, pada akhirnya hanya tinggal sesuatu yang hanya akan kautemukan di tepi pantai kesepian. Terhempas, terapung, dan sendirian. Mencoba menakar waktu dalam gelembung balon.Dan akhirnya gagal. Karena keabstrakan waktu. Keabstrakan waktu.


Waktukah yang pernah tak sengaja membunuh senja waktu itu? Aku ingat begitu hari masih muda, dan waktu bersumpah bahwa ia tengah mengasah pisaunya tajam-tajam, karena senja berkhianat. Ia berkhianat dan meninggalkan waktu, pergi tertidur lebih dahulu. Masih ingatkahkah bahwa sumpah waktu begitu mengguncangkan kala itu? Seperti Al-Zalzalah dibacakan di telingaku, terlompat isi dunia, berserak tak tersisa.


Guncangan. Guncangan seperti apa yang akan membuat gunung-gunung penyangga langit kita seperti bulu-bulu diserakkan.Jika saja kegagahan bumi hanya seperti seutas kemilau, sehelai bulu pengembara, pastilah kita hanya atom-atom yang bertabrakan.


Mungkin benar kita ini remah cuaca. Terserak sia-sia seperti mutiara di sudut laut, berkilau tetapi terbuang. Entahlah, seperti tuanya dunia ini, tak pernah mampu kita menjawab pertanyaan, bahkan setelah duduk menekur berlama-lama. Entahlah, entahlah.

Tuesday, January 09, 2007

Happy Belated B'day Teh :D



Happy belated b'day Teh...

*sambil ngecek blogspot* :D

Best,

Adilla

Saturday, January 06, 2007

:)

Found this from here. Satirically funny, and sadly, a little bit TOO TRUE.


And all you have to do is to practice what you preach....


Basa Basi Tidak Sopan (Ria Coats - Amerika)

Menanggapi artikel basa basi yang ngga sopan. Saya juga punya pengalaman unik mengenai komentar bangsa Indonesia terhadap diri saya. Kebetulan sejak kecil saya terlahir dengan tubuh besar (bongsor) yang bila dibanding wanita Indonesia lainnya. Seperti angka sepuluh. Sejak kecil saya sudah kenyang dihina, dicela, dan dikomentari macam macam, baik dari teman teman saya di Al-Azhar dulu sampai teman saya di SMA 70, sanak keluarga, abang abang becak, bajaj, ojek, pedagang kaki lima, dan teman kerja sekalipun.


Hinaannya bermacam macam. Dari si gendut, si gembrot, si gajah bengkak, si jumbo jet, si adiknya doel (doel sinetron), sampai komentar: kurusin dong, diet dong, nanti ngga laku lho, nanti ngga ada laki laki yang mau kawin sama kamu, sampai saat mencari kerja, ada bebebrapa human resource atau direkturnya menolak saya karena bentuk tubuh saya. Salah satu company yang langsung menolak saya adalah NEC. Saya di interview dan di test, semua lulus. Pada saat interview terakhir, ketemu sama bos besar, orang Jepang. Setelah interview saya disuruh menunggu di luar, dan HR masuk ke dalam. Mereka membahas hasil interview saya, kemudian HR datang kembali dan langsung berbicara saya bahwa the big boss tidak berkenan kepada saya karena ukuran tubuh saya. Sayang di Indonesia sexual harassment or race harassment belum dijunjung tinggi di Indonesia.


Nah, sampai akhirnya saya hengkang ke Amerika. Saya menemukan kesejukan di telinga. Tidak ada satupun bule bule di sini berkomentar macam macam tentang keadaan fisik saya. Malah, saya termasuk petite and slim disini, karena di Midwest ini kebetulan wanita wanitanya obese sekali. Dan surga yang lainnya saya bisa menemukan baju ukuran saya dengan mudah sekali. Tidak harus menahan hati dikomentari: tidak ada ukurannya mbak, seperti kalau saya berbelanja di Indonesia.


Tetapi komentar tidak sopan masih saya terima setiap perayaan 17 Agustus di Kansas. Kalau saya bertemu dengan teman sebangsa, pasti mereka akan berkata: ya ampun, kurusin dong, diet dong, apa ngga berat tuh, bisa lari ngga. Makannya apa sih kok bisa gendut begitu ?. Makannya 10 kali sehari ya…dan komentar itu bukan keluar dari teman dekat saya tetapi dari orang Indonesia yang belum pernah saya kenal sebelumnya atau Cuma bertemu setahun sekali. Jawaban saya simple dan beragam. Ah saya ngga mau kurus, nanti yang naksir makin banyak. Gendut saja yang antri banyak kok. Atau saya berkomentar, iya nih, saya makan banyak, iri ya, ngga bisa makan sebanyak saya…. Kebanyakan kalau saya jawab seperti itu mereka langsung diam, mundur, dan bisik bisik di belakang. Who care…!!!.


Mencari kerja pun mudah disini. Tidak ada satupun human resource yang menolak saya karena ukuran tubuh saya. Asal punya skill dan otak. Pasti diterima. Baru baru ini saya pulang ke Indonesia menengok keluarga dengan teman African American saya. Dia bertubuh sangat besar, tinggi 6 feet 2 inch dan berat 300 pound. Lalu saya belanja di pasar mayestik, begitu saya masuk pasar. Pedagang pedagang disana langsung memelototi saya dari ujung kepala ke ujung kaki, malah ada yang berani colak colek dan mencubit tangan saya. Dan berkomentar, ya ampun gendut banget sih mbak, makan apa ?. Langsung saya panggil teman African American saya. Ini lho, saya makan ini orang, bentar lagi habis beli bumbu di pasar, saya mau masak nih orang. Langsung deh mereka diam seribu bahasa. Teman saya si Brandy langsung bertanya ada apa. Setelah saya jelaskan langsung dia tertawa terbahak bahak.


Then she said” lucky, I don’t understand what you people said about this ridiculous things. If I understand, they can taste my big nice punch”. Owalah Brandy, seandainya kamu tahu, sepanjang jalan kenangan kita di Indonesia, Apa dan baiamana tanggapan bangsaku kepadamu dan kepada saya sendiri, pasti seluruh kosakata perbendaharaan kata kata manis akan keluar dari mulutmu dan pasti liburan kita menjadi tidak menyenangkan dan pasti cerita yang kamu akan bawa ke negeri Pam Sam tentang bangsaku akan menjadi sangat negative.. Untung saja aku tidak mau menterjemahkannya. Because I still love Indonesia no matter what

Thursday, December 14, 2006

A Woman of No Importance

Something from A Woman of No Importance, by Wilde:


LADY STUTFIELD. Yes; men persecute us dreadfully, don't they?


MRS. ALLONBY. Persecute us? I wish they did.


LADY HUNSTANTON. My dear!


MRS. ALLONBY. The annoying thing is that the wretches can be perfectly happy without us. That is why I think it is every woman's duty never to leave them alone for a single moment, except during this short breathing space after dinner; without which I believe we poor women would be absolutely worn to shadows.


LADY STUTFIELD. It seems to me that it is we who are always trying to escape from them. Men are so very, very heartless. They know their power and use it.


MRS. ALLONBY. I don't think that we should ever be spoken of asother people's property. All men are married women's property.That is the only true definition of what married women's property really is. But we don't belong to any one.


Funny? True? Nonsense? Whimsical? Exaggerative? You decide! :D

Tuesday, December 05, 2006

Two Separated Souls



TWO SEPARATED SOULS

I’m not a girl that you want me to be

Not as innocent as your thought of me

Many sins that I’ve done for my disguise

Because we’re live in mortality
This world isn’t safe again for me

Disbelieving in every seconds of life


I’ve lost my souls….

They had flown to the sky

Ego is conquered

Longing for you, Paradise…

Paradise….


I just want to hear

Sing the music of the earth

Play the notes of million stars

Melodies of the nature

Ring the chime of galaxies

Waking up all fantasies

A fantasy to be ours

Two separated souls of me….

Life is not a fairy tale that always ends happy ending

I‘m too not a princess with perfect story

Hunches take control of my emotions

Hypnotizing souls in obscurity

This world has lost its heart

People now being inhuman


I’ve lost my souls…

Now, lift me to the sky

Vanity is conquered

Longing for you, Paradise….

Paradise….


written and composed by this Birthday Girl :).


Background informasi: Vanya dan Bettina ini terinspirasi dari lagu di atas, ditambah film berjudul Persona. Film hitam putih, sedikit sulit dicerna karena sangat 'deep', dan lebih menekankan efek sinematografi (lightning, terutama).

Vanya adalah nama Rusia, sementara Bettina adalah nama seorang model Perancis yang sangat terkenal di tahun 50-an. Bettina atau Simone Micheline Bodin ini telah menginspirasi almarhum kakek saya untuk memberi nama anak bungsunya "Bettina", yang juga adalah sebutan lain dari "Elizabeth" di Italia.


Tulisan di bawah ini didedikasikan untuk dua dari perempuan-perempuan terpenting dalam hidup saya. Ibu saya Bettina dan sahabat saya Vanya, yang berulang tahun 28 November lalu. Semoga ini bisa menjadi hadiah yang cukup berkesan. :)





Vanya dan Bettina

Vanya tidak mengerti. Tentu, Bettina sudah seperti bayangan yang mengikutinya. Itulah yang selalu digunakan orang untuk mengumpamakan persahabatan yang erat di antara dua orang. Tapi sungguh, Bettina bukan bayangan Vanya, dan Vanya pun bukan bayangan Bettina.
Bayangan hanya ada di saat gelap, saat cahaya tidak berani masuk dan menyapa gulita yang sedang mengamuk. Dan gulita mengamuk pada cahaya yang masih berani menyelusupkan jemarinya untuk menghibur. Saat itulah bayangan tercipta. Mungkin bayangan adalah kasih sayang cahaya pada gulita, tapi ia tidak setiap saat ada. Sementara Vanya dan Bettina tidak seperti itu.
Ada kalanya mereka berdandan berdua. Vanya akan memiringkan kepalanya ke kanan, sementara Bettina ke kiri. Dan sebaliknya. Memakai pita berwarna sama, berbicara dengan suara manja yang sama. Dan menangis dalam keheningan yang sama.
Kadang Vanya begitu ingin memegang tangan Bettina. Sepertinya Bettina pun begitu. Tapi apa daya, kadang tangan itu seperti tak sampai. Dan bibir Vanya kering dengan kata-kata yang ingin disampaikan ke Bettina. Tapi hanya sedikit yang keluar. Mungkin kata-kata telah menggagalkan Vanya. Mungkin.
Musik adalah bahasa Vanya. Ia bisa berlari, menari, berdansa, cemberut, dan menangis dalam musiknya. Tidak ada yang sungguh-sungguh tahu betapa tuts-tuts piano hitam putih itu bisa berbicara begitu banyak. Bisa berteriak, bercanda, dan kadang, hanya kadang-kadang tertawa. Vanya tidak membiarkan piano tertawa terlalu sering. Tertawa membutakan mata. Dan mata yang buta tidak pernah bisa mendengarkan hati.
Vanya rindu bermain-main di luar. Yah, mungkin tidak ada salahnya sesekali ia mengenal bahwa bunga tidak hanya bernama mawar, yang selalu diletakkan ibu di jambangan. Mungkin ia bisa menyadari bahwa air, seperti hati manusia, tak selalu jernih. Ia bisa hitam, coklat, kelabu, mungkin merah seperti darah. Vanya tak tahu itu semua.
Mungkin Vanya ingin melukis di pasir pantai. Lukisan yang digores oleh tarian ombak dan dikeringkan deru angin. Lukisan yang tak pernah membosankan dan terlihat sama dalam waktu satu jam. Lukisan kehidupan.
Tapi Bettina pasti tak mau. Dunia Bettina adalah ruangannya. Manusia melelahkan bagi Bettina, mereka menghisap sari-sari kehidupannya seperti akar yang menghisap air dari tanah tanpa belas kasihan. Hening adalah sahabat Bettina, yang mengajaknya berlari di padang edelweiss dan menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.
Vanya pun membujuk Bettina. Memberikan coklat kesukaannya. Menunjukkan buku-buku cerita indah bersampul keras. Meminjamkan gaunnya yang terindah. Bettina menggeleng. Vanya menyerah. Tapi mereka bertukar pelukan.
Orang-orang akan menggeleng melihat keakraban mereka berdua. Terharu sekaligus menyayangkan. Bukankah Vanya begitu hidup dan ceria? Begitu indah dan dikagumi bagai boneka? Dan bukankah Bettina adalah gaung dari gema Vanya? Yang hanya bisa terdengar jika Vanya lebih dulu bersuara. Yang hanya bergerak, jika Vanya lebih dulu bergerak.
Vanya tidak tahu, siapakah yang seharusnya iri. Bettinakah yang seharusnya iri pada dirinya? Atau Vanyakah yang harus iri pada Bettina? Benar, Vanya memiliki semuanya. Teman-teman, kekaguman dan perhatian orang-orang, dan dunia yang gemerlapan. Tapi itu semua akan dengan mudah direbut darinya. Begitu ada boneka lain yang menjadi mainan baru orang-orang di sekitarnya, mereka akan pergi. Menghilang. Dan Vanya akan ditinggalkan. Sendirian.
Dunia Bettina adalah miliknya sendiri. Ia tidak perlu berpura-pura bahagia hanya untuk membuat orang tertawa. Bettina tidak membutuhkan piala untuk membuktikan bahwa dirinya hebat. Tidak membutuhkan buku rapor, untuk menyatakan bahwa ia cerdas. Bettina berbicara untuk dirinya sendiri. Hanya untuk dirinya sendiri.
Bettina tidak memerlukan pujian dari orang untuk merasa yakin bahwa dirinya cantik. Tidak merasa perlu menambahkan sesuatu hanya agar terlihat berkilau. Cahaya Bettina adalah kegelapannya, kekuatannya adalah kerapuhannya. Semua begitu sederhana bagi Bettina.
Sesederhana tatapan seorang anak kecil pada ibunya, sesederhana alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia yang tak mungkin menghabiskan masa hidupnya hanya untuk berdzikir. Begitu sederhana, pedih, namun tetap sempurna.
Dan begitulah. Awan yang dilihat Vanya dan Bettina berarak ke arah barat, ditiup dan dihempaskan angin, dihentak hujan. Tapi ia tetap lembut dalam tangisnya. Mungkin awan dalam hujan itu adalah Bettina. Dan halilintar yang tak sabar menyertainya adalah Vanya.
Kadang Bettina berharap, ya hanya bisa berharap. Bahwa ia tidak menangis saat orang lain menangis karena empatinya yang terlalu besar. Bahwa ia tidak perlu merelakan segalanya untuk Vanya. Bahwa ia bisa mencari perhatian orang-orang di sekelilingnya dengan bertingkah seperti Vanya. Bahwa ia bisa sesekali meminta, tanpa harus memberi dahulu sebelumnya.
Mungkin ada makhluk dengan takdir memberi dan hanya menerima sedikit. Dan selalu mengambil tanpa pernah memberi. Mungkin, mungkin juga kedua orang itu bisa berdiri berdampingan, saling bergandengan. Atau dengan punggung berhimpitan. Saling menakar diri masing-masing. Hingga lenyap kehilangan.
Mungkin ada kalanya kedua jiwa itu bergerak berlawanan, seperti Vanya dan Bettina. Seperti dua mata angin topan yang ketika bertemu tidak menjadi kuat, tetapi hanya menjadi saling melemahkan. Mungkin sebaiknya mata angin itu berpisah saja, dan mulai membuat kekacauan di tempat yang berbeda. Atau mereka bisa saling menabrakkan diri, ketika kebosanan melanda. Mungkin.
Betapa kompleksnya peran manusia yang diperankan oleh Vanya dan Bettina. Karena hidup bukan hanya terdiri dari memberi dan menerima. Karena hidup adalah intrik musim panas dan mimpi di siang hari bolong. Ia juga hujan gerimis yang semu tetapi menghadirkan pelangi. Bettina sudah lelah. Tapi Vanya tidak sadar bahwa dialognya serak, aktingnya tak lagi natural. Ia terlalu sibuk berimprovisasi hingga lupa untuk siapa ia seharusnya berakting.
Kisah tentang dua jiwa yang terpisah. Yang disatukan kebetulan yang menyakitkan. Yang hidup dengan dunia cermin, terbalik satu sama lain, tetapi tetap saja serupa. Suatu saat cermin itu pecah, meninggalkan Vanya dan Bettina dalam kebingungan yang nyata. Sekali ini saja, Bettina ingin sekali menarik Vanya ke dunia cermin. Ingin sekali.

Wednesday, November 29, 2006

A way of happening, a mouth

For poetry makes nothing happen: it survives
In the valley of its making where executives
Would never want to tamper, flows on south
From ranches of isolation and the busy griefs,
Raw towns that we believe and die in; it survives,
A way of happening, a mouth.
(In Memory of W. B. Yeats
by
W. H. Auden)

RATAPAN SEORANG KORBAN PHK KEPADA ANAKNYA
Hari ini aku tak bekerja
Kuajak anakku bicara
Terdiam, terkantuk ia dalam buaian
Tak membantah, tak juga mengiakan

Hari ini Bapak tak bekerja, Nak
Dan kami semua berteriak-teriak
Di depan gedung tinggi, minta keadilan
Minta hak kami, tak lebih dan tak kurang

Ah, cepatlah besar, Nak, bayi dalam buaian
Walau Bapak tak ingin kau kenal kekejaman
Di pundakmu ingin kami letakkan
Beban berat yang tak sanggup kuperjuangkan

Cepatlah besar, Nak, bantu Bapak
Agar tulang Bapak tak lagi rapuh,
dimakan mesin gemuruh
Agar kulit Bapak tak lagi gosong,
terpanggang omong kosong

Kalau kau besar, Nak, jangan seperti Bapak
Yang hanya bisa menangis melihat ketidakadilan
Ilmu terbentang luas di hadapan
Capailah, renggut dan amalkan
Agar kau mampu, Nak, maju dan tundukkan
Segala rintangan, capai impian.

Jika kau bangun esok dari peraduan
Panjatkanlah doamu yang tulus, wahai anakku, bayi dalam buaian
Agar`aku masih sempat melihat mentari yang membias pancarkan
Sisa-sisa semangatku yang terwariskan Karena aku tahu: aku bakal ditangkap keesokan!

Best,
Adilla

Friday, November 24, 2006

Thank You Kejora :)




Assalamualaikum,

poor me (drowned in self-pity mode) for being ill only few days before the second exam. But Alhamdulillah, the antibiotic helped me to recover( you do expect that from a special antibiotic pill which costs more than a dozen strip of Decolgen each. Thanks to my antibiotic-allergic body, not to mention painkiller-allergic body, so on and so forth :P), even though until today I still have the "oh-the-sexy-voice-that-I-always-dream-to-have-as-my-normal-voice".

Well, anyway, this is supossed to be a sincere gratitude expression. For a few days I had been so lazy to drag my fat bottom to even go to canteen and buy food. So, I fed myself with a healthy dose of the amazing instant noodle which enough to feed a batalion of hungry armies.

Hum.Enough of the rambling. I just want to thank Kejora, my beloved neighbour for her offer of buying some food from canteen A, just right before I decided to go to bed and disown my stomach, pretending it wasn't a part of my body. :P

Sooo....my food finally arrived, and really, I wasn't feeling guilty at all eating 400-calories food (even more!!) in the middle of the nite. McDonald's had never tasted so good. :D

Thank you Kejora and my other neighbour, which had been so kind to deliver the food right before my room's door! ;)

Best,
Adilla

Thursday, November 23, 2006

End of Exam Resolution ;)


Gwendolen to Cecily: Well, to speak with perfect candour, Cecily, I wish that you were fully forty-two, and more than usually plain for your age. Ernest has a strong upright nature. He is the very soul of truth and honour. Disloyalty would be as impossible to him as deception. But even men of the noblest possible moral character are extremely susceptible to the influence of the physical charms of others. Modern, no less than Ancient History, supplies us with many most painful examples of what I refer to. If it were not so, indeed, History would be quite unreadable. (The Importance of Being Earnest)

Assalamualaikum,




yup, the title says it all. Anyway, so gonna watch the BBC adaptation for Pride and Prejudice for the second time. This time, I'll make sure that I'm not going to skip any scene, despite the time constraint :P.




Funnily enough, I'm quite sure that I will prefer this BBC adaptation (not so much eye candy here, mind you), to the 2005 version starred by Keira Knightley. Found myself agreed with what Mia (as in Princess' Diary) once mentioned in the book, particularly inside the list of Women Who Are Too Pretty To Exist, that Keira Knightley was simply too pretty to be Elizabeth Bennet! Yup, Elizabeth Bennet is supposed to be smart but she does not need to look pretty (though I'm sure that beauty and brain are best friends). Yup, so much for the 3Bs :P.




Oh, and there's Colin Firth in this version, whose existence makes up for the lack of eye-candy-for-hungry-eyes and where-are-the-handsome-royal-guys-who-are-supposed-to-be-in-this-kind-of movie unanswered question.




Now I can see why Helen Fielding was so inspired by him, and wrote the Bridget Jones' diary. So easy. Once you are attracted to a character in a movie, write a novel based loosely on the characters and storyline, and voila! You become a millionaire. Maybe I should try this sometimes. Definitely safe to try at home. :P




Oh, and maybe I'll watch The Importance of Being Earnest (again? Been thinking of getting my own DVD). Yup, if you are a girl, you may (for the lack of a better word) drool over Colin Firth in this movie, and if you are a guy, well....maybe to a certain extent, you may wish to drool over Reese Witherspoon :P.




Best,


Adilla




Friday, November 17, 2006

Another Personality Test :P

Here is my favorite personality test. Think it's the best, cause it's so complete and best describes each personality.
Taken from here.

The Portrait of the Counselor Idealist (iNFj)


The Counselor Idealists are abstract in thought and speech, cooperative in reaching their goals, and directive and introverted in their interpersonal roles. Counselors focus on human potentials, think in terms of ethical values, and come easily to decisions. The small number of this type (little more than 2 percent) is regrettable, since Counselors have an unusually strong desire to contribute to the welfare of others and genuinely enjoy helping their companions. Although Counsleors tend to be private, sensitive people, and are not generally visible leaders, they nevertheless work quite intensely with those close to them, quietly exerting their influence behind the scenes with their families, friends, and colleagues. This type has great depth of personality; they are themselves complicated, and can understand and deal with complex issues and people.

Counselors can be hard to get to know. They have an unusually rich inner life, but they are reserved and tend not to share their reactions except with those they trust. With their loved ones, certainly, Counselors are not reluctant to express their feelings, their face lighting up with the positive emotions, but darkening like a thunderhead with the negative. Indeed, because of their strong ability to take into themselves the feelings of others, Counselors can be hurt rather easily by those around them, which, perhaps, is one reason why they tend to be private people, mutely withdrawing from human contact. At the same time, friends who have known a Counselor for years may find sides emerging which come as a surprise. Not that they are inconsistent; Counselors value their integrity a great deal, but they have intricately woven, mysterious personalities which sometimes puzzle even them.

Counselors have strong empathic abilities and can become aware of another's emotions or intentions -- good or evil -- even before that person is conscious of them. This "mind-reading" can take the form of feeling the hidden distress or illnesses of others to an extent which is difficult for other types to comprehend. Even Counselors can seldom tell how they came to penetrate others' feelings so keenly. Furthermore, the Counselor is most likely of all the types to demonstrate an ability to understand psychic phenomena and to have visions of human events, past, present, or future. What is known as ESP may well be exceptional intuitive ability-in both its forms, projection and introjection. Such supernormal intuition is found frequently in the Counselor, and can extend to people, things, and often events, taking the form of visions, episodes of foreknowledge, premonitions, auditory and visual images of things to come, as well as uncanny communications with certain individuals at a distance.

Wednesday, November 08, 2006

Soul Seeker

Bener nggak sih? Minta pendapat ya temen-temen... :). Thanks in advance

You Are a Seeker Soul

You are on a quest for knowledge and life challenges.You love to be curious and ask a ton of questions.Since you know so much, you make for an interesting conversationalist.Mentally alert, you can outwit almost anyone (and have fun doing it!).
Very introspective, you can be silently critical of others.And your quiet nature makes it difficult for people to get to know you.You see yourself as a philosopher, and you take everything philosophically.Your main talent is expressing and communicating ideas.
Souls you are most compatible with: Hunter Soul and Visionary Soul
What Kind of Soul Are You?

Tuesday, November 07, 2006

Moments of Being

Like this book :). Looking forward to read Virginia Woolf's Diary, there are 5 volumes of the diaries! Having read 'A Writer's Diary', I believe the unabridged version will be much more interesting :D.

Best,
Adilla

Monday, November 06, 2006

Mata yang Tak Pernah jatuh Cinta (teenage version :P)


MATA YANG TAK PERNAH JATUH CINTA

Raya memicingkan matanya ketika memasuki toko alat lukisan yang cukup besar itu. Hal yang hampir selalu ia lakukan setiap kali ia datang ke toko ini. Pak Roni, seorang lelaki paruh baya yang periang, memang memasang banyak sekali lampu di tokonya. Raya mencari-cari lelaki itu ke sekeliling ruangan. Matanya tertumbuk pada sebuah sosok yang sedang asyik melukis di sudut ruangan.
“Sore Pak Roni.” Raya menyapa sopan. Pak Roni menghentikan kegiatan yang ditekuninya dan membalas salam. “Sore Raya. Catmu habis ya?” Lelaki itu mengelapkan tangannya yang belepotan cat ke sehelai lap dan mendekati Raya, masih dengan senyum khasnya yang tersungging lebar.
“Saya mau beli kuas.” Raya menjelaskan pada Pak Roni jenis kuas yang ia butuhkan. Lelaki itu mengangguk-angguk dan bergegas ke etalase, mencarikan kuas yang Raya maksud.
“Sedang melukis apa, Pak? Raya memberanikan diri bertanya. Lukisan yang sedang Pak Roni kerjakan memang beraliran abstrak, dan Raya nyaris tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang jenis itu. Ia hanya bisa melukis realis.
“Penari Bali.” Pak Roni mengulurkan kuas yang sudah terbungkus rapi ke tangan Raya. “Almarhum istri Bapak sangat tertarik dengan kebudayaan Bali, dan pernah Bapak berjanji untuk melukiskan penari Bali untuknya. Tapi…” Suara Pak Roni menghilang. Raya menunduk. Ia jadi tak enak hati menanyakan hal itu pada Pak Roni.
“Maaf…saya tidak bermaksud membangkitkan kenangan buruk Bapak tentang hal itu. Saya permisi dulu, Pak…”
“Jangan pergi Raya. Justru Bapak yang ingin minta maaf. Malah membuat perasaan kamu tak enak dengan cerita Bapak ini.” Pak Roni memaksakan seulas senyum di bibirnya. “Sebenarnya Bapak punya tantangan buat kamu.” Mata lelaki separuh baya itu berbinar sedikit.
Raya mengangkat alis tanda tak mengerti. Pak Roni menunjuk sebuah kursi di dekat mereka, menyuruh Raya duduk, ia sendiri berjalan menuju ke belakang toko, dan kembali dengan sebuah buku sketsa di tangannya.
“Kamu lihat buku sketsa ini?”
Raya mencondongkan badan, mengamati lembar demi lembar halaman buku sketsa yang sedang dibuka Pak Roni.
“Semuanya…penari Bali.” Raya bergumam pelan.
“Ya, semuanya penari Bali.” Pak Roni mengangguk dan mengulurkan buku itu ke tangan Raya.
“Bapak ingin kamu memiliki buku ini.”
Raya menatap mata lelaki setengah baya itu, berusaha menjabarkan isi hati bertelaga teduh yang saat ini sama sekali tak terbaca oleh Raya.
“Ambillah buku ini Raya, Bapak ingin kamu memilikinya. Dan lukislah,lukislah penari Bali dengan mata yang tengah jatuh cinta.”
Raya menerima buku itu, bibirnya bergerak untuk mengatakan sesuatu, sesuatu yang lebih dari sekedar ucapan terima kasih, tetapi gelengan kepala Pak Roni menghentikannya.
“ Datanglah kemari dan tunjukkan ke Bapak lukisan yang sudah jadi itu.”
Raya hanya bisa mengangguk.Hanya bisa mengangguk.

Malam itu Raya tidak bisa tidur. Mata yang tak pernah jatuh cinta? Setidaknya mata yang tak lagi jatuh cinta milik Pak Roni. Tapi…kalau yang dimaksud cinta laki-laki kepada seorang perempuan, Raya pun belum pernah merasakannya. Bagaimana cara melukis sepasang mata yang penuh cinta jika pelukisnya saja tidak tahu bagaimana mata yang jatuh cinta itu?
Sulit. Ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan, Semula Raya menyangka ia akan cukup mampu untuk memenuhi permintaan Pak Roni. Raya sudah cukup sering melukis dengan aliran naturalis, dan semuanya, tanpa menggunakan model sungguhan. Apa…apa semua karya yang telah ia hasilkan dulu tidak berjiwa? Karena mereka tidak bermodel dan hanya menggunakan imajinasinya semata?
Raya bangkit dari tempat tidurnya dan kembali membolak-balik buku sketsa pemberian Pak Roni. Semakin ia membolak-balik buku itu dan mengamati gambar-gambar di dalamnya, semakin ia mengerti bahwa Pak Roni tidak main-main ketika memberikan pesan itu kepadanya. Raya tahu ia harus melakukan sesuatu. Harus.
*
“Raya!” Gilang menepuk bahu sahabatnya sekilas.
“Ya, Lang, ada apa?” Raya mengangkat kepala sekilas dari buku yang sedang dibacanya.
“Baca buku apa?”
Raya menunjukkan sampul buku yang sedang ia baca, membiarkan Gilang membaca judul yang tertera.
“Ada apa dengan kamu, Ya? Tiap istirahat selalu buku soal lukis melukis dan buku-buku sastra yang tak aku kenal penulisnya yang kamu pegang.”
Raya tersenyum tipis dan meletakkan buku yang sedang ia baca. Rasa penasaran Gilang menggebu-gebu rupanya. Biarlah ia melayani sahabatnya sebelum kembali berkutat dengan bukunya. “Aku punya alasan dibalik semua ini, Lang. Kamu bisa jaga rahasia kalau aku cerita kenapa aku jadi lebih rajin akhir-akhir ini?”
Gilang mengangguk penuh semangat. “Lidahku terjaga, Ray. Ada cerita
“Aku…aku lagi mau ngelukis sesuatu, tapi bingung gimana ngelukisnya.”
Gilang mengangkat alisnya.” Seorang Raya sampai bingung bagaimana cara melukis sesuatu? Apa aku salah dengar?”
“Bukan lukisan biasa, ini lukisan penari Bali titipan salah seorang orang yang aku hormati.”
Mengalirlah cerita itu dari mulut Raya. Tentang Pak Roni, tentang lukisan penari Bali yang diinginkan istri Pak Roni dan…tentang mata yang tak pernah jatuh cinta. Gilang sampai sangat terpukau mendengar semua cerita itu. Mulutnya yang biasanya tak pernah diam hanya ternganga.
“Jadi,intinya kamu sedang mencari model?”
Raya mengangguk.
“Bagaimana kalau Renata?”
“Renata?” Mata Raya bergerak ke arah gadis pendiam teman sekelas mereka, yang duduk tak jauh dari mereka.
Gilang mengangguk.”Renata Abdullah.”
“Kenapa Renata?” Raya tak mampu menyembunyikan keheranannya.
“Renata menyukai kamu dari dulu, Ya!”
Alis mata Raya terangkat tinggi.
“Kamu ingin melukis penari yang matanya jatuh cinta, kan? Renata adalah model yang paling pas!”
Raya masih terbelalak. “Kamu serius, Lang?”
Gilang mengangkat dua jarinya tak sabar. “Aku serius! Kamu bisa temui dia di perpus setelah jam pulang nanti. Biasanya dia disana.” Gilang melirik gadis itu sembunyi-sembunyi dan merendahkan suaranya.
Raya masih menggelengkan kepalanya. Gilang memang ajaib!
*
Dan disinilah Raya, menemukan dirinya, berdiri di perpustakaan dengan linglung, matanya mencari-cari sosok Renata. Dilihatnya gadis itu sedang berjinjit mengambil sebuah buku dari rak yang tinggi. Entah kenapa kaki Raya tiba-tiba tergerak untuk membantunya.
“Oh, terima kasih, Ray.” Renata menatap penolongnya, terlihat sangat terkejut.
“Sama-sama.” Raya membalas senyuman gadis itu. Apa benar Renata menyukaiku?
Suasana hening sejenak, Raya mulai gelisah, ia tidak tahu bagaimana harus memulai percakapa dengan Renata.
“Masih suka melukis, Ray?”
Mata Raya membelalak sedikit. Kesempatan baik mungkin, meminta Renata menjadi modelnya sementara mereka memperbincangkan tentang lukis melukis.
“Aku…sedang mencari model untuk lukisan baruku.”
Mata Renata bersinar.”Oh,ya? Lukisan apa?”
“Penari Bali.”
Renata berdecak kagum. “Pasti nanti hasilnya indah, seperti lukisan-lukisan kamu sebelumnya….”
“Kamu mau jadi modelku?” Raya nyaris memaki dirinya sendiri yang tidak mampu berbasa-basi.
Mata itu membelalak lagi. “Kamu serius?”
Raya mengangguk, walaupun ia sedikit bingung melihat keantusiasan Renata. “Iya, mmm…kalau kamu bersedia. Di rumahku mungkin…”
“Aku mau.” Renata menjawab singkat. Raya menatap gadis itu dengan tatapan tak percaya. Renata bersedia? Kalau begitu…mungkin akan lebih mudah melukis pesanan Pak Roni.
“Kalau begitu….nanti aku hubungi kamu lagi Tapi, mungkin akan cukup memakan waktu melukisnya.”
“Tidak masalah buatku. Baru pernah ada yang minta aku jadi model lukisan.” Mata Renata berkilauan bahagia. Raya seperti terhipnotis. Ia cuma bisa mengangguk.
“Sampai ketemu.”
“Sampai ketemu.”Renata tersenyum. Manis sekali. Raya kembali bingung. Benarkah ini Renata yang biasanya?
Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Raya teringat sesuatu.
“Renata?”
“Ya?”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Raya berdiri disana, takjub beberapa saat sebelum akhirnya punggung Renata menghilang kembali di balik rak-rak buku nan tinggi, Benarkah mata yang baru dilihatnya tadi adalah mata yang jatuh cinta?
*
Renata benar-benar datang hari itu. Padahal Raya hampir saja menjitak Gilang yang bawel karena sahabatnya itu sudah dengan ributnya berteriak-teriak kegirangan karena tahu Renata sudah mengiyakan ajakan Raya untuk menjadi modelnya, yang semula ia pikir hanya basa-basi semata. Tapi itulah yang terjadi. Renata benar-benar datang.
“Terima kasih sudah mau datang.” Raya menyilakan Renata duduk di ruang tamu rumahnya dengan sedikit kikuk. Sungguh,ia tidak tahu bagaimana caranya bersikap di hadapan gadis ini, karena mereka jelas-jelas bukan teman dekat.
“Kapan mulainya, Ray?”
“Kamu mau duduk-duduk minum dulu? Atau lagi buru-buru, ya?”
“Oh, tidak.” Renata menjawab, sedikit terlalu cepat.
“Silakan minum dulu, nanti kita ke studioku.”
“Studio? Kamu punya studio lukis sendiri?” Mata itu membelalak lagi. Raya tertegun sejenak, dan tiba-tiba ia menyadari bahwa sejak beberapa hari yang lalu ia selalu mengamati mata Renata. Benar, mata itu begitu hidup. Kacamata yang dikenakan gadis itu tidak bisa menyembunyikan vitalitas yang terpancar dari dalamnya.
“Almarhum ayahku dulu membuatkan studio kecil untukku. Sederhana saja, cuma sebuah kamar kecil yang tak terpakai.”
Renata menghabiskan minumannya dan mengikuti Raya menuju studio lukis itu. Kecil dan sederhana, seperti yang digambarkan Raya. Tapi di dalamnya penuh harta berharga. Setidaknya bagi Raya.
Jadilah seharian itu Raya melukis. Mata Renata begitu hidup, begitu bercahaya. Begitu pula mata penari yang dilukis Raya. Mungkinkah ini mata yang tengah jatuh cinta yang sedang ia lukis. Raya tidak tahu pasti.
Jemari Raya bergerak menyapukan kuasnya. Sesekali matanya bertumbukan dengan mata Renata. Benarkah mata Renata terlihat semakin bersinar seiring dengan goresan kuas di kanvas itu? Raya menggelengkan kepala dan memejamkan matanya, berharap itu hanyalah khayalan yang akan segera hilang. Tapi…
“Ada apa, Ray?” Suara Renata terdengar khawatir.
Raya meletakkan kuasnya sejenak dan memaksakan seulas senyum. “Tidak ada apa-apa Ren. “
Ia kembali menggoreskan kuasnya, seiring dengan letupan-letupan kecil di hati yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah ini…
*
Benarkah senja datang membelai tatkala ia masih muda
Hingga engkau malu dan merona?
Seutas kemilau mengawang ragu di jendela
Tak takutkah ia akan tirai-tirai gulita?
Ingin kutaburkan namamu di kaki-kaki pantai
Hingga camar-camar berhenti bertikai
Sang Waktu sedang berciuman
Busur cakrawala ini patah berserakan

Pasang sepatu kacamu Angin Merah Jambu
Dan hamparkan pertunjukan untuk bintang bulan penghuni langit
Remah cuaca menggigit-gigit panggung kita
Gejolakkah yang bermain biola dan merangkul harpa di sisinya?
Angin Merah Jambu, namamukah digemakan dasar samudera?
Ditiru dan dikuliti pelangi saat rintik pagi tiba
tampaknya, debu pun membentuk sunyimu kala bertahta
dan benarkah itu cinta-Nya yang tersembunyi padamu saat senja kembali menggoda?
Raya masih menyimpan puisi itu di laci mejanya. Sungguh, tulisan tangan rapi di atas sehelai kertas itu membuatnya tak sanggup membuangnya. Apalagi isinya. Puisi karya Renata. Puisi yang Renata tulis saat ia menjadi model Raya untuk kedua kalinya. Saat Renata mengatakan betapa ia menyukai angin yang berhembus dan berwarna merah jambu, meliputi hati yang bersyukur.
Renata bukanlah Renata yang dahulu ia kenal. Bukan Renata yang pendiam, kutu buku, dan sedikit pemalu. Renata yang ia kenal sekarang adalah Renata dengan mata seindah kilauan Spica di langit. Mata yang baru ia sadari keberadaannya.
Raya menghela nafas, memasukkan kembali puisi itu ke dalam saku celananya. Entah untuk keberapa kalinya dalam seminggu ini ia membaca puisi itu. Seminggu setelah Renata tak lagi menebar senyum manisnya saat ia memasuki studio mungil Raya. Seminggu setelah suara dan tawa renyahnya tak terdengar lagi. Seminggu setelah….lukisan penari Bali itu jadi.
Raya melangkahkan kaki menuju toko Pak Roni.Lukisan itu sudah terbingkai sederhana, dibungkus hati-hati sekali oleh Raya. Pak Roni sedang duduk di sudut tokonya, melukis sketsa dengan kesungguhan luar biasa. Bibir lelaki itu mengembang membentuk senyum melihat Raya.
“Bagaimana, Raya? Sudah bisakah kamu melukis mata yang sedang jatuh cinta?”
“Mata yang Bapak lihat sekarang adalah mata yang tengah jatuh cinta.” Raya menjawab tenang, sembari tangannya mengulurkan lukisan yang terbungkus rapi ke tangan Pak Roni. Lelaki itu membuka bungkusan tersebut dan mengamati lukisan di dalamnya, titik-titik embun mengambang di pelupuk matanya. “Saya jatuh cinta pada lukisanmu, Raya.” Kali ini, giliran Raya yang kehabisan kata-kata.
Tak jauh dari sana, Renata tengah membuka bungkusan lain. Lukisan penari Bali yang sama, dengan ia sebagai modelnya. Renata sungguh bahagia. Tapi apa yang tertulis di secarik kertas yang tertempel di lukisan itulah yang membuat cahaya di matanya lebih terang dari cahaya Orion.
Untuk mata yang penuh cinta, terima kasih karena telah membuat mataku menjadi mata yang tengah jatuh cinta.-Raya-