Poem 8
Tuhan pernah berdiri disini
Kuyakin itu
Pernah menghembus nafas-nafas yang membumi
Yang ratapnya ditakuti batu cadas dan letusan gunung menggebu
Mungkin kita boleh bersimpuh
Membicarakan sutra-sutra yang menusuk melepuh
Atau tentang kulitmu yang kau jilat dan kau resap
Hingga lemah berasap
Boleh saja langkahmu mengombak
menetak retak
Menggapai jejak
Luluh lantak
Kali ini gugur daun merimbun
Desah mengubur
Dosa mengampun
Kusam tersungkur
Sunday, January 29, 2006
Tuesday, January 24, 2006
Poem 6

Bu, inilah aku, manusia baru
Yang dulu bersemayam di rahimmu
Hingga pecah tangis melangit
Dan kau bergetar menahan sakit
Inikah dunia yang dibanggakan?
Pada seutas tiangnya, lebur harapan
Aku masih tak sanggup goyahkan Kinabalu
Dan remuk berjajar pilu
Adanya aku di deretan sana
Pada fana, semboyan dan pelana
Selama darahku masih sanggup mendidih
Seribu terima kasih tak pernah letih
Lagi, terima kasih
Saturday, January 14, 2006
Poem 6

Doa Malam
Dahan itu melambai
Lekat gemulai
Dan hujan menangis berderai
Lukamu terkubur sampai
Bidadari hitam
Merajut kelam
Ini gelap malam
Tancapkan dalam-dalam
Gugur kesepian meranggas
Sapa memanas, runtuh beringas
Sepi terdekap
Lunak meratap
Malam ini
Doa terlalu lelah bicara
Bibir putus memaki
Maka hadirkan denting
Putus asa mengering
Selamat malam, hening
Tuesday, January 10, 2006
Short Story 2

Pernahkah kau melihat terang lampu jalanan kota ini di malam hari? Menerangi dan mengalahkan cahaya bulan yang telah begitu mesra merayu, membujuk dan menggugah. Cahaya jalanan ini menyentak, membungkam jiwa bebas yang meloncat kesana kemari.
Kebenaran itu tak terhingga, begitu juga hatimu. Sedalam lautan hati manusia menurut peribahasa yang pernah kudengar. Tapi menurutku itu salah. Sedalam apapun lautan tak pernah cukup untuk mengalahkan kedalaman hati manusia. Seperti hatimu.
Bawa saja aku menuju dunia neon dan cahaya terang ini. Keindahan alam terlalu membutakan, kenangan itu terlalu maya untuk dikenang. Tapi bawa aku. Bawa aku ke dunia semu dan hampa yang disebut keramaian kota. Itu lebih baik bagiku. Setidaknya kenangan itu takkan pernah kembali. Atau aku bisa berpura-pura bahwa kenangan itu tak pernah ada. Tidak ada kenangan dalam dunia yang dirajai uang. Tidak ada kata-kata indah dan hasil karya dari legenda yang bisa meleburkan hati yang kesepian.
Karya tentang lembah surga itu. Sadarkah kau jalan hidup kita telah berubah mengikuti hasil karya itu semenjak pertama kali kita bertemu? Ini takdir. Tiada yang lain. Siapa yang menyangka sesuatu yang ditulis manusia bisa sedemikian kuatnya mempengaruhi kita? Kita yang manusia biasa ini, dalam sekejap menjelma menjadi dewa dewi penghuni kahyangan. Betapa derajat kita terangkat, betapa khayalan kita terpuaskan.
Kau mencintai surga itu. Seperti aku mencintai surga itu. Kita mabuk karena surga itu, lupa akan segala kenyataan. Bahkan sepotong surga yang dijatuhkan Pencipta kita di sudut bumi ini pun telah sangat mencukupi. Ingatkah kau bahwa hujan pun berwarna merah dan pohon-pohon menangis sambil berzikir di lembah surga itu?
Lalu semua berubah, mimpi telah mengejawantah, seperti bidadari yang tertinggal selendangnya ketika mandi. Ia terlalu nyata untuk tak bisa kita raih. Tatapan rindumu itu! Dan danau itu. Aku tahu kau bisa melihat alam semesta di dalamnya. Kau berjanji melukis namaku di dasarnya suatu saat, bahkan jika kau harus melukisnya dengan darahmu.
Seperti apa alam semesta yang kau lihat di air yang memetakannya kuat-kuat? Apakah itu dunia sederhana seperti milik kita yang bebas dari bau darah dan lengkingan penasaran? Ataukah itu dunia impianku yang hanya berisi kita dan ratusan kupu-kupu serta lengkung pelangi yang terus hadir di mimpi-mimpi kita? Ataukah itu…duniamu yang kadang tak pernah bisa kucapai dengan kesederhanaan cara berpikirku?
Seperti apakah cinta Tuhan yang pernah kau dengar dari bisikan-bisikan daun di pepohonan yang menguning karena kebosanan? Dan tetes-tetes embun yang membawa berita baik dan cerita-cerita yang melenakanmu? Aku ingin tahu. Kau tak pernah punya cukup waktu untuk menceritakannya. Yang terjadi dahulu selalu sama. Kita akan berbaring menatap langit setelah hari yang melelahkan, berbaring di rerumputan yang begitu murah hati merelakan dirinya menjadi kasur dan bantal.
Lalu datang bintang jatuh yang membuatku tak berkedip, hingga permohonan itu tak pernah bisa terlontar dari bibirku. Matamu selalu awas terhadap bintang jatuh. Tapi kau berkata bahwa permohonan seumur hidupmu tak mungkin terkabul. Apa itu? Tak bolehkah aku mendengarnya darimu sekali saja?
Kau menggeleng. Tak pernah kulihat matamu sepedih itu. Apakah permintaanmu itu sama seperti memohon surga baru bagi kita? Tak bisakah Tuhan mengabulkannya? Aku percaya kau takkan mungkin menginginkan surga lagi di bumi setelah lembah surga ini memuaskanmu hingga ke ujung-ujung urat nadi. Tapi tetap saja. Senyum sedihmu menyakitkanku. Karenanya aku memilih tidak bertanya lagi dan kita larut dalam keheningan yang sempurna. Lalu kau, akan sibuk menunjuk bintang-bintang dan menyebut nama mereka satu persatu dengan kefasihan luar biasa. Aku tak tahu soal bintang, tidak sama sekali. Kau tertawa melihat wajahku yang kebingungan, dan berjanji suatu saat kau akan membawakan bintang-bintang itu ke pangkuanku, sehingga aku bisa membedakan bintang yang satu dengan yang lain.
Malam ini bintang jatuh lagi. Tapi sudah terlambat. Keinginan itu lagi-lagi tak bisa terlontar dari bibirku. Aku bisa merasakannya seperti kau merasakan keinginanmu yang tak mungkin terkabul. Lagipula cahaya neon ini begitu membutakan, aku tak tahu apakah yang kulihat tadi benar-benar bintang jatuh atau cahaya lampu yang berkedip sesaat di kejauhan.
Menatap kota di malam hari membuatku merasa amat kecil. Tapi bukan perasaan merasa kecil yang sama saat kita berbaring di rerumputan, berbantalkan andromeda dan meneropong dengan spica itu. Ini hanyalah sebuah perasaan yang berbuah dari kekosongan. Karena kau tak ada disini. Dan secangkir kopi di hadapanku membatu, ia takut akan tatapan mataku.
Sekarang giliran album foto di rak menatapku tajam-tajam hingga aku membeku. Ah, kenapa dia bisa ada disitu? Bukankah aku telah menguburnya dalam-dalam di rak itu hingga ia tak mungkin diketemukan lagi? Benda itu membangkitkan kenangan, dan kenangan yang bangkit darinya akan bernasib malang, karena ia akan hilang tersiram aroma materialistis yang dipancarkan duniaku sekarang.
Oh ya, masihkah album berisi semua kenanganku kau simpan? Ataukah sudah sedari dulu ia mendekam di gudangmu? Semua orang yang pernah membolak-balik albummu pasti mempertanyakan, siapa yang mencuri senyum yang hadir hanya di satu buah fotomu saat kau berusia tujuh tahun? Tatapan matamu di semua foto itu begitu dingin. Aku beku. Mungkinkah itu karena seseorang yang separuh darahnya mengalir dalam tubuhmu? Aku tidak tahu.
Kita adalah dua manusia tanpa identitas di lembah surga itu. Kau dan aku hanyalah dua bola-bola jiwa yang dipersatukan oleh arus waktu. Tidak ada yang lain. Percayakah kau, aku begitu yakin bahwa bola jiwamulah yang menubrukku lebih dulu. Karena kau begitu sadar akan takdirmu. Sedangkan aku hanyalah sosok limbung tak tentu arah saat itu.
Betapa indahnya drama yang ditulis Sang Pembuat Skenario terhebat. Aku begitu terlarut di dalamnya, hingga melupakan untuk siapa sebenarnya aku berperan. Lembah surga adalah panggung kita. Dialog-dialog yang kuucapkan saat itu membuatmu terpana. Tapi itu tak seberapa. Kekuatan perananmu mengalahkan kekuatan dialogku. Hingga aku sadar bahwa pada akhirnya aku bahkan tak tahu akhir cerita macam apa yang kita harapkan.
Mungkin aku memang bodoh sebagai manusia, betapa aku berharap drama kita tak pernah berakhir. Seperti jawaban polosku saat kau bertanya, mengapa kita harus terlahir. Karena kita ingin terlahir, bukankah begitu? Tuhan terlalu Maha Pengasih untuk tidak mengabulkan permohonan kita untuk bisa terlahir. Tapi kau tidak puas, terus mendesakku dengan pertanyaan. Lalu setelah terlahir, apa? Aku menjawab, kita terlahir untuk bertemu seperti saat ini, seperti kau dan aku. Kau mengangguk, tampak puas dengan jawabanku. Tapi tatapan sedihmu muncul lagi, sehingga aku memilih diam dan kembali bercengkrama dengan kupu-kupu yang berlutut di jemariku.
Setujukah kau dengan jawabanku? Tak peduli dimana akhirnya kita harus berakhir, tapi ada satu titik dimana tugas kita untuk bertemu dengan seseorang telah selesai. Mungkin tugas kita untuk bertemu satu sama lain sudah selesai. Dan panggung itu pun akan segera hancur, meninggalkan mawar merah kesayanganku untuk terengah-engah berusaha tumbuh disana. Mawar merah yang dulu kupetik masih ada, penuh berisi masa laluku. Ia layu, dan tak mungkin menghisap kemudaan dunia lagi. Apakah aku juga telah menjadi mawar merah itu? Layu karena harapan dan kerinduan akan matahari, angin dan air yang dulu setia menyapa tak terpenuhi?
Akankah kau berkata aku tak pandai menikmati apa yang kumiliki sekarang? Yah, aku telah kehilangan lembah surga, bunga-bunga yang tak pernah layu dan legenda yang meninggalkan saksi bisu disana. Aku tak akan pernah mengatakan kau hilang, karena seperti yang kubilang, tugas kita telah selesai. Mungkin akan ada satu detik waktu dunia, dimana kau dan aku berdiri bersebrangan di dua sisi jalan, tetapi lampu tak kunjung hijau untuk kita menyebrang. Dan aku tak berani menyebranginya untuk sekedar menggapai lenganmu. Akan ada pula saatnya kita berdiri di bebatuan danau, dan aku tak sanggup menyebrang karena takut air akan menenggelamkanku.
Disinilah aku sekarang, saat hujan turun deras memukul-mukul jalanan dengan hentakan tariannya. Aku tak mungkin pulang. Cahaya neon di balik kaca tipis ini memudar, perlahan digantikan kegelapan. Dan tahukah kau? Rasanya satu bintang baru saja jatuh.
Thursday, December 08, 2005
Short Story 1

CINTA DUA PULUH TAHUN
Dua puluh tahun tidak bisa memisahkan dunia yang mestinya berisi buku, pesta dan cinta dengan dunia itu. Dunia berisi seminar, rapat, presentasi dan pertemuan-pertemuan bisnis. Tapi cinta dalam dunia pertama begitu ingin memasuki dunia kedua. Begitu cepat ia tumbuh dewasa. Tapi dua puluh tahun itu terasa begitu jauh. Dan cinta itu terus berharap.
Dua puluh tahun tidak cukup lama untuk membuatnya menyadari kenyataan. Tidak. Toh memang tidak ada yang tidak mungkin. Selama ia masih hidup ia ingin menikmati kenyataan itu. Seperti saat ini. Tidak ada sesuatu yang membuatnya menyesal. Tidak ada. Keberadaan sosok itu begitu kuat. Sehingga tak mungkin bagi perempuan itu untuk mengelak. Dan inilah kenyataan.
Dua puluh tahun adalah intensitas itu. Intensitas padangan mata yang begitu penuh padat. Ia membentang jarak dua puluh tahun seperti jembatan yang menghubungkan dua sungai.Tak peduli apakah jembatan itu rapuh dan tak bisa disebrangi.Tak peduli apakah orang-orang akan berani menyebranginya. Hanya menatap. Dan itu membuatnya puas. Dan itu kembali, membuatnya puas.
Dua puluh tahun tidak bisa menerjemahkan pandangan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dan cinta seorang wanita kepada laki-laki. Ia terlalu sederhana untuk diterjemahkan. Tetapi juga terlalu sulit untuk hanya diterima mentah-mentah. Perempuan itu memilih menerjemahkannya sendiri. Ia seperti kupu-kupu yang begitu bahagia melirik kesana kemari, tanpa bisa saling menyentuh. Dua puluh tahun.
Dua puluh tahun tidak membuatnya menyalahkan sang Pencipta. Ia tahu ia takkan pernah berhak. Dua puluh tahun membuat pertemuan ini terjadi. Dua puluh tahun membuat tangan-tangan itu tak pernah sampai dan hujan itu terus berderai, sementara kabut pemisah tak henti-hentinya terurai. Tidak ada yang dirugikan.
Dua puluh tahun tidak membuatnya menyesali dan menangis setiap kali dadanya sesak oleh perasaan yang begitu ingin membuncah keluar. Bibirnya terlalu kecil untuk mengucapkan semuanya. Kakinya terlalu mungil untuk bisa membentangi jarak itu dan mendekatkannya. Tapi hatinya luas. Hatinya begitu luas dan disitulah ia mensyukuri dalam setiap detik hidupnya, kesempatan untuk bisa menikmati perasaan itu walaupun seluruh air mata yang ia miliki menjadi penukarnya.
Dan dua puluh tahun seperti sebuah kedipan mata. Hanya senyuman dan pujian dahulu dari lelaki itu yang terus membuatnya hidup, menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian yang ramai. Perempuan itu selalu memenuhi hatinya dengan keindahan dan kenangan-kenangan yang direka ulang dalam berbagai versi buatannya sendiri. Gumpalan gambar, rekaman suara menjadi nutrisi hatinya yang kerap mengering dan bersedih.
Dua puluh tahun itu terus terngiang. Mengalahkan kesibukan yang terpisahkan oleh tumpukan kertas dan buku-buku serta laporan kerja. Mengalahkan tumpukan laporan yang harus segera diperiksa. Menusuk pada malam-malam yang dingin. Ia terlalu indah untuk ditepis, tapi terlalu halus untuk disadari keberadaannya. Dan lelaki itu memang tak pernah menyadari.
Dua puluh tahun membuat yang mungkin menjadi tak mungkin. Lelaki itu tak pernah menyadari ada sepasang mata penuh kerinduan yang menatap di balik tirai tertutup, berharap ada sepotong kata dari pita suara yang akrab itu terdengar telinga. Tapi dinding itu terlalu tebal dan kejam untuk membiarkan hal itu terjadi. Sambil mengharap angin yang berhembus kencang untuk menerbangkannya, gadis itu melangkah perlahan, kakinya terlalu berat untuk digerakkan menjauhi ruangan itu. Kalau saja…Ya, kalau saja.
Dua puluh tahun perbedaanlah yang membuat pertemuan mereka begitu berharga. Kepolosan berpadu dengan kematangan dan kemantapan akan dunia semu yang begitu menjebak. Dan waktu terasa berhenti saat itu juga. Tidak ada yang menyadarinya. Bahkan hingga kaki harus dilangkahkan dan selamat tinggal harus diucapkan. Detik pertama itu telah terpatri abadi, seperti senja yang mengawang di sebuah pegunungan. Ia telah berbaur dengan kesyahduan yang nyata. Kesyahduan yang nyata.
Dua puluh tahun membuat kesadaran dan kesenangan yang memuncak menyatu. Lelaki itu bersembunyi di dalam senyumnya, perempuan itu bersembunyi di balik tatapan mata dan topeng kacanya yang mudah pecah. Ia tak pernah sanggup menyembunyikan semuanya di balik senyuman, sebab siapapun pasti bisa melihat air mata kesedihan yang tak pernah berhenti mengalir di malam hari.
Dua puluh tahun itu bisa memecahkan karang yang menggumpal.Tapi ia tak bisa memberitakan kenyataan. Ia tak pernah sanggup meyakinkan. Seperti memasukkan benang ke dalam sebuah jarum yang tak berlubang. Salah sasaran. Lelaki itu terlalu sibuk membohongi kenyataan. Dan perempuan itu terlalu sibuk menyatakan kebohongan pada hatinya.
Dua puluh tahun perbedaan membuatnya tegar. Luka itu takkan pernah sembuh. Kehadiran seseorang itu tak pernah bisa dihapus, dan ruang di hatinya terlalu sempit untuk menampung sosok baru. Ia hidup dalam kenangan, seperti sebuah lilin yang menyala dalam ruangan gelap. Takkan pernah cukup terang, tapi setidaknya ia tak akan terantuk bila berjalan di dalamnya.
Dua puluh tahun yang membuatnya berandai-andai. Drama macam apa yang sebenarnya dibuat Sang Pembuat Skenario terhebat ini? Akan sampai kapankah ia bisa menjalani perannya? Tak adakah yang menggantikan? Ia sudah lelah menghafal skenarionya. Bibirnya sudah terlalu kering untuk mengucapkan dialog-dialognya. Air matanya sudah habis untuk memerankan adegan menangis. Dan ia sudah lupa bagaimana caranya tertawa.
Dua puluh tahun yang melelahkan. Seperti dentuman takdir yang bercampur dengan doa. Doa itu terkadang terlalu lemah, tapi sering pula terlalu kuat sehingga takdir terkulai tak berdaya. Takdir yang terengah-engah itu tetap bergaung, mengakar kuat meski kekalahannya telah nyata. Dan doa itu, kadang terlalu bangga hingga takdir kembali memukulnya kuat-kuat, membawanya kembali pada kenyataan. Dua puluh tahun itu. Ia berhembus seperti kisah-kisah abadi yang terus digemakan pegunungan dan ditangisi langit di kesendiriannya. Sejarah terus mencatat, bunga-bunga terus menyanyikan lagu penghibur. Pada sebuah monumen cinta dengan dua puluh tahun pemisah. Cinta dua puluh tahun.
Wednesday, December 07, 2005
Poem 5

Hidden Tears
Seperti takdirnya air mata
Merencah gunung meraba telaga
Atau mungkin mengubah dunia
Hingga hanya serpih tersisa
Seperti takdirnya air mata
Tersembunyi mungkin
Di dasar hati, dasar pikiran
Atau membuncah keluar
Lepas dari bendungan
Seperti takdirnya air mata
Mungkin hadir karena
Pencarian tak berujung
Bahkan senja pun lelah jadi saksinya
Seperti takdirnya air mata
Entah kenapa
Ia begitu sering
Hadir dalam detak
Abadi tak retak
Seperti takdirnya air mata
Yang mencari nasibnya sendiri
Seperti takdirnya air mata
Sudahi saja kisah ini, sampai di sini
Poem 4
Poem 3

Sosok Senja
Kau takkan bersatu dengannya
Tidak juga denganku
Kau hanya rebutan lembayung senja
Dalam pelukan camar-camar manja
Tidak, tak perlu tanganmu menyambung lagi
Masih kusimpan sisa-sisa dawai
Yang menghubungkan dua kepala, dua insan berbeda
Tapi bukanku, yang menghitung keperakan rambutku
Maka kulangkahkan kaki ke pantai
Seonggok kerang dan tekad di tanganku
Untuk melihat kau, sosok senja
Sampai hilang dilebur masa
Dan sisa-sisa cahaya
Adalah penguat diriku dan dia
Boneka emasmu
Poem 2

My newest poem, dedicated to Balinese after second bali bombing:
Guncangan saja tak pernah cukup keras
Manusia bebas, mengarak sejuta embun luas
Guruh ini bahkan lembut memelas
Dan hujan menutup, menyanyi dalam deras
Tegarlah, tegarlah
Tanah bisa terbelah, langit bisa patah
Dan air mata tak kering sudah
Pijakan kaki menggayut lemah
Tetap doamu terpapar pasrah
Seperti apa cakrawala itu
Bagi kita yang akrab dengan kelabu
Tangis sendu, haru biru
Nyanyi langit tak lagi merdu
Seperti apa langit biru itu
Bagi kita yang fasih berbahasa kalbu
Betapa hati-hati yang beku
Tak kembali, rusak mengadu
Kali ini kau boleh menangis
Dan membuat jantungku teriris
Katakan saja, ceritakan saja, paparkan saja
Karena kedamaian ini, ketentraman ini tak lagi meraja
Kali ini kau boleh memohon
Tidak, tanpa nada memohon
Desah saja, kuras saja, lepas saja
Cairkah semangatmu yang dulu membaja?
Poem 1

This is my favourite poem, was published in Surat Putih 3, Negeri Terluka :)
CERITA PENGHAMBAAN
Telah menjadi lengang dambaan suara
Tubuh renta bercampur petaka
Goresan dingin dan hempasan batu tua
Kami kembali, tidakkah kau harap lagi?
Aku kembali ingin menghitung
Telah berapa banyak sejarah dunia
Dan pelaku-pelakunya
Berdiri di luar sana, membisikkan harapannya
Inginnya kita tetap satu
Seperti gumpalan pasir dan debu
Matang karena menanti
Tajam karena beradu
Masa lalu adalah ringkik kuda putih
Dan darah otot yang mndidih
Pekikan-pekikan penasaran
Penghambaan mayat kenangan
Puing tertunda bara kemalangan
Kita bisa kembali
Ke negeri teduh, tempat angin tak melepuh
Dan mempertaruhkan darah kita, harapan akhir masa
Adalah kata, lumpur pekat dan guruh cuaca!
First Post
Assalamualaikum,
This blog will be hosting my short stories and poems. I will keep it updated as soon as I can. I try to update at least once a week. :)
This blog will be hosting my short stories and poems. I will keep it updated as soon as I can. I try to update at least once a week. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
