Tuesday, August 21, 2007

Kuku. Gunung dan Cinta Seorang Perempuan


Kuku, Gunung, dan Cinta Seorang Perempuan (Perempuan Kedua)*

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Cinta laki-laki seperti gunung, ia besar, tapi konstan dan sayangnya rentan. Jika mengamuk ia akan meletus dan menghanguskan apa yang ada di sekitarnya. Cinta perempuan seperti kuku. Kecil, tetapi terus menerus tumbuh walaupun dipotong. Jika suatu saat kuku itu patah dan harus dicabut, seberapapun sakitnya, kuku itu akan terus tumbuh. –Biola Tak Berdawai, Seno Gumira Ajidarma-

When a woman marries again, it is because she detested her first husband. If a man marries again, it is becase he adored his first wife. Women try their luck; men risk theirs-The Picture of Dorian Gray, Oscar Wilde-

Entah solidaritas apa yang membawa sekumpulan tiang-tiang negara itu untuk berada di pengadilan, meneriakkan dukungan semangat dan dorongan kepada salah satu dari kaumnya untuk berani menghadapi kemungkinan apa yang ada di hadapannya. Kemungkinan yang mungkin akan membuat cinta wanita itu, seperti kuku yang telah patah dan harus dicabut. Sakit, tetapi kembali tumbuh perlahan, demi cinta yang tak pernah habis untuk anak-anaknya. Untuk orang yang mencintai dan memerlukan kehadirannya.

Seorang laki-laki menikah lagi. Ia mungkin bukan lelaki ‘biasa’, kehadirannya begitu meneduhkan, membuat ia dicintai dan diidolakan oleh kaum adam maupun hawa. Entah mengapa cinta kaum hawa pada lelaki itu seakan berbalik, ketika cinta sang lelaki pada istri yang telah menghadiahkan tujuh generasi penerus itu harus terbagi. Entahlah. Mungkin sebenarnya lelaki itu adalah pemenangnya, karena ia telah membuktikan bahwa ia manusia biasa, yang tak berhak mendapat pengkultusindividuan dari siapapun. Entahlah.

Seorang ibu yang sangat tegar dan luar biasa itu bercerita. Lelaki yang telah dinikahinya belasan tahun lalu mengaku bahwa ia telah jatuh cinta. Lagi. Pada seseorang lain yang baru saja beberapa saat hadir dalam kehidupannya. Dan sang ibu yang luar biasa ini mencoba mendekati manusia baru dalam kehidupan sang suami. Mendapati bahwa mereka berbagi banyak hal, selain cinta pada makhluk Allah yang sama. Dan mendoakan kebahagiaan wanita itu saat mereka berpisah. Sungguh-sungguh mendoakannya hingga akhirnya wanita itu menemukan jodohnya sendiri.

Dalam sebuah diskusi tentang perkawinan yang mulai memanas, pembicara akhirnya memilih menengahi dan berkata: “Ibu tahu tidak ada seorang pun yang ingin diduakan, karena itu, berhentilah menjadi perempuan kedua (ketiga, keempat dan seterusnya)...”

Para laki-laki dengan cinta sebesar gunung itu. Dengan kesungguhan dan kerja keras yang akan melumerkan batu dan merontokkan dedaunan. Dengan kasih sayang yang mengalahkan segarnya oasis di gurun-gurun. Dengan tulang-tulang rusuk bengkok yang harus ‘diluruskan’, seberapa banyakpun jumlah rusuk-rusuk itu.

Mungkin suatu saat gunung itu akan meletus. Mungkin kerusakan yang ditimbulkannya tidaklah sebanding dengan kebaikan yang akan dibawanya kelak, dengan bunga-bunga tanah yang menjanjikan surga baru bagi lahan yang sempat teraniaya. Mungkin. Entahlah, entahlah.

Untuk ayah-ayah dan lelaki-lelaki dengan cinta sebesar gunung di luar sana. Semoga gunung itu tak pernah meletus.

*Terinspirasi dari tulisan Fatma Ariana dalam Catatan Seorang Ukhti 6: “Kuku, Gigi, dan Cinta Seorang Perempuan”

*Terima kasih A-team untuk diskusinya.


Wednesday, August 15, 2007

Topeng




with a lock in my heart,

I put on a mask in a cold consciousness

aside from you, who knows my true face?

(Masquerade-Hitomi)

Ada sebuah cerita yang menarik dalam salah satu novel yang pernah saya baca. Dalam buku itu ada dua orang perempuan yang bersahabat, dan salah satunya menanyakan kenapa temannya yang lain sering terlihat memasang 'wajah' yang berbeda setiap menghadapi orang yang berbeda-beda pula.

Sang teman ini menjawab, bahwa setiap orang berhak untuk diperlakukan secara berbeda-beda, sesuai dengan kepribadian mereka. Si penanya bertambah penasaran, karena ia secara pribadi berpendapat bahwa hal seperti itu merepotkan. Gue ya gue, mau orang lain terima atau nggak itu masalah mereka, begitu kira-kira ia berpendapat.

Sang teman kembali menjawab, bahwa dengan memperlakukan setiap orang sebagaimana mereka ingin diperlakukan, kita akan terlatih menjadi subyek, dan bukan hanya sekedar obyek. Lalu apa yang salah dengan menjadi obyek? Kembali terlontar jawaban yang bijak: bahwa hanya orang yang bersedia menjadi subyeklah yang bisa menjadi pahlawan dalam arti yang sesungguhnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa seumur hidupnya manusia memakai topeng. Bedanya hanyalah, ada topeng elastis yang dengan lenturnya berubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi, topeng yang lahir dari hati yang tulus dan pikiran yang jernih, dan topeng kaca yang mudah pecah, yang harus diganti setiap kali ia menjadi properti sebuah peran.

Ada sebuah fragmen yang indah tentang 'topeng' ini dari kehidupan Rasulullah SAW sendiri. Diceritakan bahwa Rasulullah SAW memperlakukan sahabat-sahabatnya, para khalifah sesuai dengan kepribadian masing-masing.

Dengan Abu Bakar As-Shiddiq, beliau tak segan-segan bermanja dan memperlakukan beliau seperti kakaknya. Terhadap Umar bin Khattab yang tegas, Rasulullah juga bersikap tak kalah tegasnya. Ketika menghadapi Utsman bin Affan yang pemalu, Rasulullah selalu berpakaian rapi.

Mungkin sudah saatnya kita melatih diri kita, memasang 'topeng elastis' yang senantiasa digerakkan oleh hati, sehingga topeng-topeng kaca yang dulu sempat terpasang tak diperlukan lagi. Insya Allah :).

Saturday, August 11, 2007

Father and Son (errrmm, daughter) :P


Thanks, Dad :).

Father and Son (Ronan Keating ft Yusuf Islam)


Father
It's not time to make a change,
Just relax, take it easy.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

I was once like you are now, and I know that it's not easy,
To be calm when you've found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything you've got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

Son
How can I try to explain, when I do he turns away again.
It's always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

Father
It's not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
You're still young, that's your fault,
There's so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
if you want you can marry.
Look at me, I am old, but I'm happy.

Son
All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
It's hard, but it's harder to ignore it.
If they were right, I'd agree, but it's them you know not me.
Now there's a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

The A-team

....or 3 of them :).

Cheers, Sistas! :D

Best,

Adilla

Photo courtesy of Ayu

Thursday, August 09, 2007

Broken Rhapsody

Suddenly I miss them, for no reason. But I guess you don't need a reason to miss your own 'family' :).

Take care.

Best,
Adilla

Dua Puluh Menit

Dua Puluh Menit

Most of man's troubles come from his inability to sit down and be quiet for twenty minutes -Aristoteles

Perkenalan dulu ya? Menurut saya ini bagian yang cukup susah, karena menurut sebuah buku yang saya baca, introducing oneself may seem egoistic, and since everybody is egoistic, no one likes to appear so :P. Saya Adilla Anggraeni, biasa dipanggil Adilla. Business angkatan 2004. Semoga hal-hal sederhana yang saya bagi disini bisa sedikit bermanfaat untuk kita semua, sesama pembelajar di sekolah alam semesta :).

Bicara tentang dua puluh menit, saya cukup lama berpikir dan merenungkan apa arti ungkapan di atas. Apa iya sebagian besar masalah kita timbul karena ketidakmampuan kita sendiri untuk duduk dan berdiam diri selama dua puluh menit? Seberapa besar ya arti dua puluh menit itu sendiri?

Dua puluh menit mungkin adalah lamanya waktu yang digunakan untuk tersenyum dan menyapa orang-orang yang kita temui pada satu hari.

Dua puluh menit mungkin terasa sangat singkat bagi sebuah bibir dan jemari yang rajin berdzikir selepas sholat.

Dua puluh menit sangatlah lama bagi hati yang jernih untuk tidak mengingat Penciptanya.

Dua puluh menit uluran tangan yang sederhana mungkin akan sangat berarti bagi seorang wanita tua yang kerepotan membawa barang belanjaannya.

Dua puluh menit bisa menentramkan hati seorang sahabat yang sedang berduka di ujung sana.

Dua puluh menit mungkin juga waktu yang digunakan seorang ibu ketika ia bangun dan terjaga di malam hari untuk menidurkan kembali bayinya.

Dua puluh menit perhatian yang diberikan kepada seorang pasien yang sendirian tanpa sanak keluarga yang menemani mungkin akan dia kenang setidaknya hingga dua puluh tahun ke depan.

Dua puluh menit adalah waktu yang sangat lama untuk menyulut permusuhan, tetapi sangat singkat dan mungkin tidak dapat mencukupi untuk menciptakan perdamaian.

Dua puluh menit ternyata bisa mengubah segalanya, meninggalkan bekas dan harapan untuk maju ke depan, menjalani menit-menit yang tersisa dalam kehidupan.

Dua puluh menit dalam hidup kita setiap harinya, sudahkah kita manfaatkan untuk hal-hal yang dapat membekas hingga setidaknya dua puluh tahun ke depan? Semoga :).

Tuesday, August 07, 2007

Bon Voyage, Lady Boucle ;)




Dear Manda,

thanks for being there for me. You really are the best sister anyone could wish to have. Wish you all the best for your future endeavours and take care :).

Love,

Adilla

An Old School Affair



It's always nice to have them by your side, giving you comfort and loving you unconditionally.

Thank you, friends :).

PS: It was really "An Old School Affair", took place in Fullerton Hotel. I couldn't agree more that all of them look incredibly smart and beautiful :D.

Thursday, August 02, 2007

Convocation

My lovely, unconventional parents. Always there, always ready to help and love. Sincerest gratitude to both of you. No words can describe how much I love you :). Thanks for everything.



My, I look chubbier than ever! XP



Thanks for coming, Teh. Glad you could make it :).

Ayu, partner in and against crimes :D. I suppose convo gown can look good, too.



Nancy, Ocvia, and Wewoen. Three girls who have made it through the rain. So lucky to have all of you as my friends :).









Fellow SSS-ers. Glad to have them as seniors and friends :D.

Friday, July 13, 2007

Rapture





Just sharing some pics ;). Pictures courtesy of Fanny.

Wednesday, July 11, 2007

Step by Step

I'm moving now, both move out and on :). It's kinda troublesome especially when you have quite literally tons of things (you know, being a girl and all that---> but come to think of it, most of my belongings consist of books, which is not exactly 'girly' :P).

Moving on is needed every time you make your way to the top. Sometimes memories, good or bad, can hinder your movement and make you unable to make important decision in your life.

So this is good bye :).

Best,
Adilla

Thursday, June 07, 2007

Adilla Anggraeni, B.Bus

Assalamualaikum....

Alhamdulillah, that long and winding journey ends here. So this is just an acknowledgment for some parties that have been so helpful during these three years.

  • Allah SWT, basically for EVERYTHING. I'm grateful for whatever You've decided for me. Surely You've got some bigger plans :). Alhamdulillah.
  • Bapak dan Ibu. Terima kasih untuk semuanya. Doa, cinta, dukungan moral dan material. Terima kasih karena menerima saya apa adanya, percaya dan yakin bahwa saya selalu berusaha memberikan yang terbaik, apapun hasilnya.
  • M. Anggoro Wicaksono, my little brother. Terima kasih karena sudah ada disana dengan segala kelucuan dan teladan yang tidak pernah disadari. Teteh selalu sayang banget sama Ade.
  • Keluarga Wiranatadjaya, atas cinta, perhatian, dan kasih sayang yang tidak kalah dari keluarga sendiri. I love you, all.
  • Keluarga Yahya
  • keluarga Sahadi.
  • FYP mates, Ayu Pratiwi dan Abdullah Rubaet Chowdhury, thanks for your dedication and hard work. I kinda miss doing FYP right now :P.
  • NBS people: Ayu Pratiwi, Karina Widagdo, Melisa Hendrawati, Nancy, Ocvia Freriana, Fieda Khorman, Wewoen Wilyani Salim, Ronal Halim (dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu), tidak ada satu haripun tanpa kebanggaan karena menjadi bagian dari kalian semua, thanks for your friendship, support, smiles, and helps. I couldn't have been able to survive those days had you not given me any :).
  • Accellers-04, Vanya, Mia-chan, Fitri-chan, Fanny-chan, Gege-chan, Rio-kun, Ryan-san dan Shana-san. Terima kasih atas inspirasi dan teladan selama ini. I wish you all the best for all your endeavours.
  • NBS faculty, thanks for providing everything that I needed and many things to satisfy my curiosity and inquiring mind.
  • NTU-2004, terima kasih karena sudah menjadi bagian dari kehidupan saya selama tiga tahun. I'm grateful for every single moment here.
  • SSS, terima kasih karena sudah mengijinkan saya menjadi bagian dari kalian. Terima kasih untuk persahabatan dan pertolongan yang diberikan, serta kesempatan untuk saling berbagi. :)
  • MIN 62, kakak-kakak, teman-teman dan adik-adik. Terima kasih atas bimbingan, cinta, pengetahuan dan ukhuwah yang sudah terjalin selama ini :).
  • Last but not least, semua pihak yang telah meletakkan dasar-dasar pendidikan dan karakter dalam diri saya. Terima kasih atas segala dukungan dan kepercayaan di saat saya benar-benar membutuhkannya untuk tetap maju. Kenangan tentang kalian tersimpan rapi dalam sudut otak yang Insya Allah tidak menguap seiring berlalunya waktu.
  • Pihak lainnya yang belum disebutkan, I'd like to thank everyone of you. :)
Best,

Adilla

Wednesday, June 06, 2007

TIRAMISU



TIRAMISU

Semuanya selalu sama. Rasa yang begitu lezat, dan adonan yang lumer dan lembut di lidah. Semuanya terbungkus lembut. Dan Raina terbuai.

Selalu sama. Kafe yang sama. Tempat duduk di sudut yang sama. Percakapan yang berbeda. Tapi tumpukan kertas di hadapannya seolah tak perduli. Mereka mencampur semuanya, meramu semuanya. Mencampur segala kata sifat yang ada di dunia ini dan mencampurkannya seperti garam di lautan.

Tua, muda. Kenapa kedua kata sifat itu seolah bukan hanya bertentangan, tetapi juga mencerminkan dua sisi yang berlainan? Mengapa semua orang mengucapkan kata “tua” dengan rasa jijik, takut, dan antisipasi yang berlebihan? Mengapa wajah mereka memucat, seolah tengah melihat sendiri lubang kuburan mereka digali? Tak bisakah kata “tua” dan “muda” diucapkan seolah mengucapkan kata merah dan hijau? Tanpa ada tendensi dan makna terselubung di baliknya?

Dan Raina kembali tersenyum. Menggoyangkan pena di balik kedua jemarinya, mencoba menerka apalagi yang akan ia tulis di helaian kertas di hadapannya. Hidup. Tentu, tidak ada yang lebih bernyawa dan menginspirasi dari hidup itu sendiri. Bahkan lebih dari cinta yang diagung-agungkan banyak orang sebagai sumber inspirasi terbesar. Bukankah cinta itu sendiri adalah hadiah dari kehidupan?

Kening Raina berkerut. Pandangannya kembali terlempar pada sosok-sosok di sekitarnya, yang menghirup kopi atau cairan apapun yang ada di gelas mereka dengan kepuasan tersendiri. Seorang lelaki duduk tepat di hadapannya, pakaiannya sedikit lusuh, tapi raut wajahnya bersinar ketika ia membolak-balik koran di hadapannya. Kebahagiaan itu! Manusia macam apa sekarang, yang bisa begitu bahagia hanya dengan menikmati secangkir kopi, di udara yang membekuka tulang seperti ini?

Manusia yang tahu cara mensyukuri hidup. Raina memutuskan. Dan kembali tertunduk mencoretkan sesuatu di atas kertas. Bibirnya membentuk seutas senyuman. Jikalau aku bisa merekam adegan di hadapanku ini seperti seorang pelukis di hadapan kanvasnya! Raina iri, sangatlah iri karena ia perlu menggoreskan seribu kata sebelum akhirnya mampu menandingi kelancaran bahasa seorang pelukis di hadapan kanvasnya.

Raina begitu iri, sehingga pikirannya kacau saat itu. Dosis kafein yang ia tenggak sebelumnya tak pernah mampu meredakan kekalutan Raina seperti saat ini. Raina meremas kertas di hadapannya keras-keras. Selalu sama, selalu sama. Kejadian ini berulang lagi, hingga ia ingin berteriak begitu keras dan melupakan segalanya. Kecuali rasa tiramisu yang masih menari-nari di lidahnya.

Kenapa adonan di depannya ini bahkan bisa berbicara lebih banyak daripada kertas-kertas naskah ini? Bisa bercerita lebih banyak dari kerutan yang menghiasi wajah seseorang? Bukankah kerutan itu menandakan setiap peristiwa besar dalam kehidupan? Garis kegembiraan yang terbentuk setelah bertahun-tahun menjadi satu kerutan. Lalu ada garis tangis. Garis terkejut. Garis lengkung tanpa arti yang terbentuk karena keheranan. Itu saja. Tapi ia telah kalah berbicara.

Setiap ada di café ini, Raina selalu membandingkan dua hal. Kopi yang pahit dan tiramisu yang manis menggigit. Taplak meja yang bersih dan serbet yang telah kotor. Kakinya yang bersepatu hak tinggi dan pengemis telanjang kaki di luar. Lembaran uang di meja yang pastinya cukup untuk hidup pengemis itu di luar dan recehan di kaleng di hadapan pengemis itu. Tempat orang yang sedikit bermurah hati menafkahkan rezekinya.

Lucu begitu rasa dan aroma yang selama ini diacuhkan banyak orang bisa menjadi alat pengenang masa lalu. Mereka seperti menyekap dan membelenggu seseorang, memkasanya menoleh ke masa lalu yang ingin dikubur dalam-dalam oleh orang yang bersangkutan. Mereka seperti hantu yang berwujud, diam-diam mencengkeram dari belakang.

Raina menghirup kopinya. Entah syaraf-syaraf apa yang dihidupkan oleh kopi ini ketika ia tersentakkan dan dipaksa bangun untuk merangkai jaring-jaring kehidupan di atas kertasnya. Raina tidak melukis. Ia merangkai dan memutus jaring-jaring kehidupan, membingkai dan menempelkan di tempat yang dirasa cocok.

Raina merasa bisa menjadi Tuhan dalam dunianya sendiri dengan menulis. Ia menuliskan nasibnya dalam versi lain, dengan boneka-boneka takdir tanpa daya yang akan menurut segala kehendaknya. Ia menjungkirkan fakta, membolak-balikkan kenyataan dan mengguncangnya sekaligus. Lalu ada tiramisu. Kue yang rasanya bagai ambrosia, minuman para dewa.

Raina mungkin perwujudan dari Prometheus, yang dihukum karena melanggar kekuasaannya sendiri. Prometheus yang terjebak dalam keabsurdan hidup, dalam ketragisan heroik. Apakah semua pahlawan yang tragis sebenarnya bodoh? Mungkin akan ada saatnya sebuah literatur Jawa akan mengatakan bahwa Kurawa sebenarnya pintar karena mereka mampu mengatur strategi untuk merebut sesuatu dan menjadikan hal itu milik mereka, dan bukannya nrimo tanpa perlawanan!

Ketragisan heroik dan hukum rimba yang setali tiga uang. Siapa yang bilang hukum rimba yang diterapkan di pergaulan manusia itu hanya ada di kota-kota besar, atau bahkan lebih spesifiknya, di Ibu Kota? Raina tersenyum sinis. Hukum rimba sudah ada saat manusia pertama kali diciptakan! Hukum rimba telah ada saat Qabil membunuh Habil. Saat jerapah berleher pendek tak mampu beradaptasi dan harus punah karena tak mampu menjangkau daun di pepohonan yang tinggi.

Mungkin pengemis di luar itu adalah hasil dari hukum rimba, seleksi alam tak kenal batas yang membuatnya tak kenal akan rasa manis dan lembut tiramisu ini. Mungkin rasa matahari dan hujan lebih meresap ke dalam tulang-tulangnya, sehingga senyuman kepuasan dan terima kasih itu bahkan terlihat lebih indah daripada senyuman lelaki setengah baya di hadapan Raina yang sedari tadi mengaduk-ngaduk kopi pekat dalam cangkirnya dengan ekspresi wajah orang yang bisa melihat dunia dan seisinya dengan cupu manik Astagina.

Raina ingin berlari keluar dan meminta pengemis itu bertutur, mungkin memintanya mencicipi sesuap tiramisu ini dan mendengar tawanya. Mungkin tawa pengemis itu akan terdengar merdu dan jernih seperti mata air yang telah menembus peradaban, yang bergema membius hutan-hutan dengan gemericikannya.

Raina ingin berbicara tentang patriotisme, tentang nasionalisme, tentang merah dan putih, tentang darah dan tulang, tentang tanah dan air dalam buku-bukunya. Ia ingin mengejawantahkan tawa pengemis yang tak kunjung terdengar, mendeskripsikan rasa tiramisu, menurunkan hujan di gurun yang selebat hujan di pegunungan. Kata-kata saja tak cukup. Kata-kata kadang menggagalkan Raina, menyeret ekspresi-ekspresi di sekelilingnya hingga ke titik terendah dan bukan melambungkannya ke titik zenith.

Inspirasi dan bukan sekedar sesuap nasi. Suatu pilihan yang sulit. Segala sesuatu yang bertabrakan kadang bisa berakibat seperti asteroid yang menimbulkan hujan meteor, meskipun dengan hasil tak seindah hujan meteor. Raina sudah memanfaatkan kesepuluh jarinya untuk mendapat apa yang ia inginkan sejauh yang ia ingat. Jika tidak, air mata adalah senjata pamungkasnya. Pada dasarnya manusia mungkin tidak pernah benar-benar tumbuh dari saat mereka bayi. Kepolosan tangisan bayi bahkan telah digugurkan oleh satu jenis tangisan lain dengan tujuan sama, mendapatkan apa yang diinginkan.

Masih adegan yang sama. Raina, tiramisu dan kopi. Bahkan juga adegan yang sama masih terulang, ketika sebuah suara yang memanggilnya untuk mengajak pulang kembali memutus hari itu, memutus kembali adegan-adegan yang tengah berkejaran.Adegan berisi Raina, tiramisu, dan kopi.


Tuesday, June 05, 2007

Me, Myself, and I

Pertanyaan paling susah selama interview: please tell me about yourself, or describe yourself.
Kenapa ya? Masalahnya kadang saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Nama, umur, sekolah/pendidikan dan hobi? Atau gambaran personality pribadi?

Entah kenapa dua-duanya terkesan janggal, dan saya merasa sejauh ini belum pernah meninggalkan kesan yang benar-benar mendalam setelah diacuhkan pertanyaan seperti ini. Mungkin karena pertanyaan ini sebenarnya merupakan satu dari sekian banyak pertanyaan yang belum tentu terjawab oleh manusia bahkan sampai akhir hidupnya. Bukan begitu?

Kadang saya coba buka lagi deretan testimonial di friendster, yang secara halus disebut seseorang sebagai "upaya untuk menutupi aib yang punya friendster" :) ternyata pun belum berhasil.Mungkin sebelum memahami orang lain, mencoba memahami diri sendiri dulu yah. Dan itulah yang paling susah :D

Monday, May 28, 2007

To Read or Not to Read

Dear All,

minta tolong sedikit ya, bisa kasih tahu tentang buku atau film favorit kalian? Terus kenapa suka sama film/buku itu? Bisa ceritain sedikit tentang plotnya?

I'd really appreciate that. Thanks :).

Best,
Adilla

Friday, May 25, 2007

Sneeze Me, Squeeze Me, Please

Dari dulu yours truly punya sedikit 'quirk'. Setiap kali stressed, repressed, compressed, kulit jadi merah dan gatel-gatel. Setiap kali selesai ulangan Kimia, tangan langsung merah. Sehabis ulangan Matematika, migrain langsung kumat.

Beberapa hari kurang tidur, pilek langsung kambuh. Dulu waktu jaman SD, pilek kambuh hampir setiap hari Jum'at. Waktu SMP, jam tayangnya pindah ke hari Selasa, dan biasanya bersin parahnya kambuh waktu pelajaran bahasa Inggris sampai ada temen yang keheranan dan nanya, 'kamu alergi sama bapak guru yang ngajar ya?'.

Tapi sedikit 'flaws' ini cuma buat ngingetin ya, supaya tetep bersyukur dalam kondisi apapun :). Buat ngurang-ngurangin dosa juga dan bikin sadar akan kelemahan diri sebagai human yang toh dengan adanya 'flaws' gini aja udah tumbang :D.

Best,
Adilla *yang lagi migraine*

Wednesday, May 23, 2007

Alhamdulillah...

I know it's not that much, but this is just for the first time. I didn't expect anybody to read such a difficult material, anyway...:)
Alhamdulillah. Sometimes you can't just have all your cake and eat it as well :D.

Tuesday, May 22, 2007

Adigang, Adigung, Adiguno

Pernah denger istilah di atas? Istilah kayak mikul dhuwur mendem jero? Atau memayu hayuning bawana?
Ternyata prinsipnya sama ya...Cara mengerti tentang kehidupan. Filsafat itu susah, tapi kalo dimengerti, isinya cukup untuk menampung semua pasir-pasir ilmu dalam satu wadah.
Satu wadah yang bisa larut dalam tetesan air dari jemari. I wish I could do much better, though.

Fiuhh...

Greetings! :)

Dear all,

holiday means BOOKS. Lots of them ;). And it wouldn't hurt to have several pages typed. Well you know, just in case...Even though my mouth works harder than my brain during these days, if you get what I mean... :P

Best,
Adilla

Friday, May 11, 2007

Falling....and Fast.

Dear You,

thanks for giving me yet another reason to exist. Thank you.

Best,
Adilla