Monday, September 25, 2006

Mata yang Tak Pernah jatuh Cinta

Nggak tau apaan :P.

Tidak ada yang tahu kenapa mata itu tak pernah jatuh cinta. Mungkin ada saatnya sepasang mata itu melirik, melotot, mendelik, atau hanya menutup pasrah. Tapi mereka tak pernah jatuh cinta. Bahkan ketika helaian daun terakhir yang tersisa di pohon akasia mengiba-iba menanyakan mengapa mata itu tak pernah jatuh cinta, mata itu tak mampu menjawab.
Mata itu selalu mengembara, seperti ingin menelusuri perjalanan Kubilai Khan yang menghunus pedang yang setara berharganya dengan nyawa baginya. Mereka menemukan ketenangan pada genangan air yang berdzikir begitu rezeki telah usai melompat-lompat dari langit.Kadang mereka menyempatkan diri dan berbincang dengan batu-batu kecil yang kokoh bersila di pinggirjalan. Kadang mereka menunduk sebentar, mengamati jalanan yang terhampar di bawah, seperti karpet tak berujung.
Kenapa manusia menyamakan panjangnya jalan dengan cinta kasih orang tua?
Bukankah jalan itu pada akhirnya berbelok, dan tak selamanya lurus tak bergejolak? Bukankah sering jalan itu tandus, tak beraspal dan tak rata serta rindu akan percikan hujan karena kepulan debunya?
Mata yang jatuh cinta tahu ia takkan pernah bisa meniru kasih sayang di mata kedua orang tua, yang malangnya diumpamakan dengan panjangnya jalan. Mata yang jatuh cinta rindu melanglang buana, mencari tatapan lain yang begitu ingin ia tiru, tatapan mata lain yang begitu penuh cinta. Tapi tidak ada yang lebih indah dari tatapan mata kedua orang tua pada anaknya, yang masih merupakan benih kehidupan.
Mata yang tak pernah jatuh cinta begitu iri. Iri pada kehidupan dan kebahagiaan sederhana yang menjadikan mata-mata lain begitu bersinar. Iri pada mata-mata lain yang merasakan cinta Pencipta mereka bahkan hanya dari hembusan angin yang menyapa di sore hari. Iri pada ikan-ikan yang berenang, yang mata penuh cinta mereka mencegah air di sekelilingnya untuk membeku bahkan saat udara sedang bermuram durja.
Mata yang tak pernah jatuh cinta selalu sendirian. Kadang ia merasa seperti Mathew Arnold dan “Dover Beach”-nya, penyair yang menatap kejauhan selat Inggris dan meratapi nasib dunia setelah guncangan religius terjadi. Mata yang tak pernah jatuh cinta bisa mengerti bagaimana perasaan mata sang penyair, resah dan tak pasti. Mungkin ada saat dimana penyair itu berharap bumi menelannya bulat-bulat, tanpa ada niatan untuk memuntahkannya lagi.
Ini seperti rayuan pulau kelapa. Mata yang tak pernah jatuh cinta mengembara ke pasir-pasir pantai yang bernyanyi riang bersama ombak, berayun kesana kemari, menguliti laut dan bercanda dengan kerang-kerang yang sedang berjemur. Mata yang jatuh cinta bisa merasakan cinta raja siang yang sedang bercengkrama lembut bersama camar-camar. Mata yang tak pernah jatuh cinta ingin ikut bernyanyi bersama mereka,tapi kerongkongannya tengah kering dan suaranya sumbang. Mata yang tak pernah jatuh cinta mendesah kecewa.
Mata yang jatuh cinta mempertanyakan lagi kenapa ia tak pernah jatuh cinta. Mungkin saja ia takut cintanya hanya bernasib seperti cinta manusia yang hanya bersinar sepanjang usia kecantikannya. Mungkin ia takut cintanya akan berujung pada kebencian dan kekecewaan. Mungkin karena…
Mata yang tak pernah jatuh cinta begitu menyukai kedalaman mata pada kucing-kucing yang tersipu saat ia menatap mereka. Pantasnyalah hewan ini adalah hewan kesayangan Rasulullah! Merekakah yang telah menginspirasi Soseki Natsume mengorek kedalaman jiwa manusia, merobek segala topeng mereka dengan sekali hentak?
Mata yang tak pernah jatuh cinta ingin seseorang menuliskan kisahnya, menuliskan kisahnya dan membuatnya jatuh cinta. Menuliskan kisahnya dan membacakannya di gulita, menyalakan pelita. Menuliskan kisahnya dan membisikkannya perlahan, mengulum kata-kata itu dan mengucapkannya pada hati yang kesepian.
Mata yang tak pernah jatuh cinta tahu ia tak pernah bisa selamanya mengembara. Ia ingin menyelusup ke tangan penari, merasakan wirama, wiraga, wirasa yang menyatu pada tubuh mereka. Merasakan kehalusan gerak dan jiwa mereka yang seakan berpisah dari tubuh saat mereka menari. Atau ikut menyanyikan macapat kinanthi, suara mereka lembut menggaung, seperti sayatan pisau yang tengah mengupas buah, mengiris tanpa menyakitinya.
Seperti itulah, Mata yang tak pernah jatuh cinta bertanya apa yang akan terjadi apabila ia menua, dan ia belum pernah jatuh cinta? Menua, apakah menua itu? Menjadi keriput dan lelahkah ia nanti saat ia menua? Tersia-siakah ia saat ia menua dan lanjut usia?
Mengapa jarang sekali ada mata yang mampu mencapai kecantikan sejati saat ia mencapai usianya?
Mata yang jatuh cinta selalu menganggap mata yang penuh dengan pengalaman hidup dan cinta kasih selalu bercahaya dan begitu cantik. Begitu cantiknya hingga mereka bahkan terlihat begitu bersih dan tanpa dosa bagi mata yang tak penah jatuh cinta. Mata yang tak pernah jatuh cinta ingin menyudahi petualangannya. Ia sudah mendaki beberapa gunung, menyelami beberapa samudra, bahkan mengelana di gurun-gurun. Tapi ia belum pernah jatuh cinta. Mengapa cinta terasa begitu sederhana, tapi begitu mahal dan tak tertelan oleh lidah dan mulutnya?
Bisakah mata yang tak pernah jatuh cinta merasakan cinta yang tersia-sia dari pepohonan yang hangus terbakar di hutan-hutan karena kejahilan manusia? Betapa pepohonan itu menangis karena cintanya tak lagi mampu menaungi sesama penghuni rimba yang bernaung di bawahnya. Betapa pepohonan itu menangis karena tak lagi bisa merasakan cinta tulus dari sang akar yang tak pernah menonjolkan dirinya ke permukaan bumi. Selalu memberi tanpa pernah meminta kembali.
Mungkin mata yang tak pernah jatuh cinta akan jatuh cinta ketika ia mencari ke delapan penjuru angin, seperti Bima yang mencari tentang kebenaran sejati hingga ke dalam lautan luas. Tapi bahkan angin pun menggeleng ketika mata yang tak pernah jatuh cinta bertanya. Ia telah terlalu lelah meniup awan-awan bandel yang manja. Angin juga ingin bermain dan meniup-niup perahu layar nelayan hingga mereka bisa menyapa ikan dan mengajak ikan-ikan itu pulang ke rumah.
Mata yang tak pernah jatuh cinta mulai putus asa. Ia ingin pergi saja seperti seorang pengelana di dalam guanya, menyatukan panca indera demi menghadap Pencinta yang amat dicintainya. Tak menghindahkan desahan dedaunan yang ingin menggoda. Juga haus dan lapar yang menggigit perut dan kerongkongannya. Sanggupkah mata yang tak pernah jatuh cinta berbuat seperti sang pertapa?
Mata yang tak pernah jatuh cinta kembali mengulang rekaman kisah pewayangan yang sering didongengkan ibunya dahulu. Tentang Dananjaya yang tetap teguh bertapa walaupun bidadari-bidadari mengganggunya dengan segala cara. Menggoyahkannya seperti sebuah batu di pinggir jurang terjal. Dananjaya yang telah mati panca inderanya selama ia bertapa. Itukah cinta? Jika Dananjaya sekali saja membuka mata, tentunya ia akan menyadari kedatangan Batara Guru yang menyamar membangunkannya dari tidur panjang.
Kedatangan dewa yang telah dibutakan oleh cintanya sendiri ketika sumirat datang dan mengaburkan pandangan. Cinta yang terkaburkan oleh hasutan tunggangannya sendiri hingga kutukan pun terlontarkan pada seseorang yang pernah ia sebut cinta.
Mata yang tak pernah jatuh cinta tak tahu apakah ia harus mengandalkan segala panca inderanya atau tidak untuk bisa jatuh cinta. Lelahkah jatuh cinta itu? Terasa seperti kehabisan darahkah mencintai itu? Bagaimana seseorang sanggup bertahan ketika cintanya tidak terbalas? Benarkah mencintai harus selalu berbalas? Mata yang tak pernah jatuh cinta tidak tahu bagaimana ia akan mencari jawaban atas segala pertanyaan itu.
Ia tahu Shakespeare begitu lihai meramu kisah cinta tragis yang tak putus-putusnya dibisikkan zaman ke telinga-telinga manusia yang menelan bulat-bulat kisah itu, meneteskan air mata ketika mengetahui akhir dari seluruh kisah itu, tetapi dengan tragisnya membuang kebahagiaan mereka sendiri dengan mengulang kisah yang sama.
Pantaskah seseorang mengakhiri hidup orang lain dan bertindak bagai Tuhan dengan mengambil nyawanya sendiri untuk sesuatu yang disebut cinta? Mata yang tak pernah jatuh cinta tak pernah mengerti. Tak pernah bisa mengerti. Apakah yang indah dari kehancuran satu makhluk Sang Pencipta yang lain demi kejayaan yang lain? Tak bisakah pengorbanan tidak berbumbukan darah? Ini bukanlah kisah heroik, sebuah elegi pagi hari yang dipersembahkan mentari kepada mata yang tak pernah jatuh cinta. Ia tak akan pernah tertarik.
Benarkah yang terekam oleh kisah-kisah Ramayana dan Bharatayudha adalah cinta? Sedhumuk batuk senyari bhumi, hak milik harus diperjuangkan,kata para pujangga itu membenarkan tindakan para pelakunya. Akan tetap hidupkah para legenda-legenda itu jika perang tak berkobar? Akan tak tersia-siakah air mata janda-janda yang ditinggalkan dan anak-anak yang dalam sedetik menjadi yatim tak berdaya?
Cintakah itu yang mengalir dari bantuan-bantuan pangan seperti hujan deras pada negara-negara yang tertimpa musibah? Uluran tangan itu, senyum itu, rangkulan hangat itu. Terbayarkah cinta semacam itu oleh mereka yang dicintai? Dan benarkah energi yang tengah mengalir dari rimbun air terjun mengucur deras itu juga cinta? Begitu pulakah tsunami penghancur dan pematah hati, pemisah manusia dari orang-orang yang dicintainya?
Mata yang tak pernah jatuh cinta ingin terus melanglang buana, bagai pasir dicurahkan dari bejana waktu, mengais dan meringis, memaparkan gelak dan bergerak berontak. Mungkin ia akan berakhir mengenaskan, terkapar tanpa ada yang mengenali dirinya lagi, mungkin pula ia akan berjaya dan jatuh cinta. Mungkin. Mata yang jatuh cinta kali ini hanya ingin menyapa angin merah jambu kesayangannya. Angin merah jambu yang membawa seutas kemilau di lehernya kemanapun ia berlari, meloncat, berjalan.

Angin merah jambu dan seutas kemilaunya.

Benarkah senja datang membelai tatkala ia masih muda
Hingga engkau malu dan merona?
Seutas kemilau mengawang ragu di jendela
Tak takutkah ia akan tirai-tirai gulita?

Ingin kutaburkan namamu di kaki-kaki pantai
Hingga camar-camar berhenti bertikai
Sang Waktu sedang berciuman
Busur cakrawala ini patah berserakan

Pasang sepatu kacamu Angin Merah Jambu
Dan hamparkan pertunjukan untuk bintang bulan penghuni langit

Remah cuaca menggigit-gigit panggung kita
Gejolakkah yang bermain biola dan merangkul harpa di sisinya?

Angin Merah Jambu, namamukah digemakan dasar samudera?
Ditiru dan dikuliti pelangi saat rintik pagi tiba
Tampaknya, debu pun membentuk sunyimu kala bertahta
Dan benarkah itu cinta-Nya yang tersembunyi padamu saat senja kembali menggoda?

Mata yang tak pernah jatuh cinta masih ingin jatuh cinta. Masih.

5 comments:

anginmerahjambu said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...

manis :)

Adilla said...

Makasih anginmerahjambu :). Yang kasih comment di atasnya, anginmerahjambu jugakah? :D

Anonymous said...

heeh... di-delete, isinya sama kok :D

Adilla said...

IC...hehehe. Doain ya, pengen nulis lagi, tapi sampe sejauh ini belum ada topik yang bener-bener bagus. Mau hiatus dulu menjela exam mungkin :D